Waspada, Jangan Jadi Orangtua yang Membunuh Karakter Anak

Waspada, Jangan Jadi Orangtua yang Membunuh Karakter Anak

Farenting.com – Melihat buah hati mendapat apresiasi, prestasi, dan pencapaian dalam kariernya tentu merupakan suatu kebahagiaan bagi orangtua. Lebih-lebih jika sang anak mendapat jurusan terbaik di kampus-kampus unggulan, tentu orangtua akan bangga dan bercerita pada teman-temannya. Prestasi dan pencapaian anak seringkali digambarkan sebagai kesuksesan orangtua dalam memberikan pola asuh yang tepat. Maka tak heran, jika sang anak memiliki karakter kurang baik, maka orangtualah yang salah.

Banyak sekali ungkapan-ungkapan di dunia parenting yang kerap ‘menyerang’ orangtua. Salah satunya, ‘tidak ada anak yang salah, yang salah adalah cara didik orangtua’, jadi orangtua seolah-olah selalu menjadi sumber masalah bagi anak-anaknya, karena memang pada awalnya anak adalah sosok manusia polos yang tak mengerti apapun tentang hidup.

Kalau dulu kerap diterapkan empat pola asuh konvensional, mulai dari pola asuh otoriter yang begitu menekan, memberi aturan yang sangat ketat pada anak. Kemudian ada pola asuh demokratis yang memberikan aturan yang jelas dan fleksibel bagi anak. Hingga ada pola asuh permisif dan pola asuh pengabaian yang memberikan kebebasan tanpa adanya aturan yang tegas dan pengabaian terhadap tingkah laku anak.

Seiring dengan kemajuan zaman, terdapat banyak sekali pola asuh baru yang bermunculan. Salah satunya adalah digital parenting. Dilansir dari Artikel Farenting, digital parenting adalah bagaimana mendidik anak di era digital, yang mana orangtua dituntut harus lebih terampil dalam pemanfaatan teknologi digital agar tumbuh kembang anak bisa meningkat secara positif.

Meski terdapat banyak opsi pola asuh dalam mendidik anak, tak dapat dipungkiri bahwa praktiknya tak semudah yang dibayangkan. Para orangtua seringkali dibuat lelah dan tak berdaya begitu menyaksikan anaknya melakukan penyimpangan terhadap norma dan aturan yang telah diajarkan. Alhasil orangtua menjadi lelah, stres, hingga depresi yang bisa berakibat pada bullying, merendahkan, kekerasan, bahkan yang paling parah pembunuhan pada anak sendiri.

Fenomena tersebut disebut juga dengan ‘toxic parent’, yang mana kehadiran orangtua seharusnya mampu memberikan pendidikan dan pengasuhan justru bertolak belakang dan menjadi ancaman bagi sang anak. Fenomena toxic parent ini bukan saja ketika orangtua memberikan serangan berupa kalimat frontal. Namun, kerap juga terjadi secara tidak disengaja dan tanpa disadari orangtua membunuh karakter anaknya sendiri. Hal ini seperti diungkapkan Adhi Pazti, pakar dan praktisi parenting nasional dalam seminarnya, Bedah Solusi Parenting pada Selasa (6/9) kemarin. “Toxic parent itu ketika orangtua membunuh karakter anaknya, kemudian juga mematikan imajinasinya,” Kata Adhi Pazti kemudian mempraktikkan kepada peserta webinar percakapan antara anak dan ibunya.

Anak: “Mama-mama aku punya pesawat, nyeenngggg.

Ibu: “Apaan, itu bukan pesawat itu kertas nak.”

Kemudian misalnya (anak) ngomong sama tembok.

Anak: “Hai tembok apa kabar kamu, udah makan belum?”

Atau ungkapan serupa yang dianggap aneh oleh orangtua sebenarnya hal yang lumrah bagi anak. Hal ini karena rasa ingin tahu dan imajinasi anak masih tinggi. Itulah mengapa sangat penting bagi orangtua untuk mempelajari seluk beluk ilmu parenting. Termasuk tentang apa saja kalimat yang baik dan tidak baik yang dapat mempengaruhi karakter anak ke depannya. Penanaman karakter anak ini pun harus diupayakan sedini mungkin, terumata di masa-masa golden age.

Jika saat ini Fams merasa belum menjadi orangtua yang baik bagi buah hati, tak usah khawatir. Tak boleh ada kata terlambat jika itu menyangkut kebahagiaan dan kesuksesan si kecil. Terdapat beberapa hal yang harus dimiliki oleh setiap orangtua yang mau melihat kemajuan pada anaknya. Di antaranya memiliki ilmu parenting, entah itu didapatkan dari buku, seminar, mentor, komunitas, ataupun media lainnya.

Baca Juga:  Waspada Toxic Relationship dalam Pernikahan

Pada masa pandemi ini, banyak aktivitas serba terbatas yang mengharuskan orangtua lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Kini Fams tidak perlu khawatir, karena Adhi Pazti memberikan kesempatan bagi Fams untuk mendaftarkan diri dalam materi pembelajaran yang dibuat oleh timnya. Dalam materi pembelajarannya, terdapat banyak pola asuh dan metode baru yang diajarkan. Materi tersebut diambil dari pengalamannya sebagai pakar dan praktisi dalam dunia parenting.

Terdapat tiga paket pilihan yang dapat Fams pilih. Pertama, paket peduli, Fams akan mendapat fasilitas berupa satu video pembelajaran, “Menjadi Orangtua Sejati”. Kedua, paket hemat, Fams akan mendapatkan lima video pembelajaran yang tentu akan menambah pengetahuan tentang dunia parenting. Kemudian yang terakhir paket kaget, di mana Fams akan mendapat sepuluh video pembelajaran dan dapat tergabung dalam komunitas parenting sekaligus dimentori langsung Adhi Pazti. Nah, bagaimana Fams, tertarik untuk menambah wawasan seputar dunia parenting? Jangan lewatkan kesempatan emas ini ya. (adv)

Pilihan paket pendaftaran materi parenting bersama Adhi Pazti

Sepuluh video pembelajaran yang didapatkan jika membeli paket kaget.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *