Sifat Narsistik yang Harus Dihindari Para Orangtua

Sifat Narsistik yang Harus Dihindari Para Orangtua

sumber: gstatic.com

Farenting.com – Narsistik kali ini tidak berhubungan dengan orang yang hobi selfie. Orangtua dengan kepribadian narsistik, selalu ingin anaknya bergantung sepenuhnya pada dirinya. Meskipun sang anak merasa bisa melakukan kegiatan itu sendirian. Perasaan bahwa lebih mengetahui apapun yang terbaik untuk sang anak selalu menyelimutinya. Sebenarnya, pola asuh seperti ini baik atau tidak sih untuk anak?

Orangtua yang memiliki kepribadian narsistik dapat dilihat dari cara pola pikirnya dan perilaku yang berhubungan dengan gangguan mental narsis atau narcissistic personality disorder (NPD). “Orang narsistik adalah, orang yang merasa dirinya lebih dari orang lain. Gangguan ini berlangsung dalam waktu yang lama,” ujar Dian Imbung seorang psikologi melalui kanal Youtube Gue Sehat. Orang yang memiliki NPD tidak bisa menerima kritikan dari oranglain hingga memicu kemarahan. Rasa empati yang rendah terhadap orang lain, selalu haus akan pujian dan arogan adalah ciri NPD. Orangtua yang memiliki kepribadian narsistik akan berdampak pada pola asuh yang diterapkan ke anak-anaknya.

Mengacu pada psychologytoday.com, orangtua narsistik cenderung bersikap posesif terhadap anaknya dan selalu ingin dekat. Selain itu, cenderung menaruh ekspektasi tinggi terhadap tumbuh dan kembangnya. Sebagian besar orangtua narsistik suka sekali memamerkan pencapaian anaknya dan mendorong anaknya untuk melakukan hal yang lebih dari ekspektasi. Tuntutan pencapaian tinggi terhadap anak bukanlah semata-mata untuk kebaikan anak, namun untuk kebutuhan, kepuasaan dan keinginannya sendiri.

Tak segan, terkadang orangtua memanipulasi emosi anak seperti membuat anak merasa bersalah. Tanpa sadar  anak akan merasa malu terhadap dirinya sendiri dan menekan mental anak agar mau menuruti kemauan orangtuanya. Anak seakan-akan menjadi “boneka” demi memenuhi ambisinya. Kurangnya rasa empati orangtua terhadap anak membuat mereka tidak memperdulikan perasaan dan apa yang sebenarnya dibutuhkan dan diinginkan sang anak.

 

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya untuk berprestasi yang dapat membuat mereka bangga. Namun, ada yang membedakan antara orangtua normal dan narsistik. Orangtua narsistik mereka yang memiliki kecenderungan untuk menghambat kemandirian sang anak. Bukannya menciptakan anak menjadi pribadi yang mandiri, orangtua narsistik malah membuat anak selalu bergantung pada dirinya. Biasanya, ketika anak tumbuh dalam kepribadian yang mandiri adalah salah satu bentuk ancaman.

Hal seperti ini bila tidak diperbaiki akan berdampak hingga anak tumbuh dewasa. Walaupun anak sudah tumbuh dewasa, dalam pandangan orangtuanya dia tetaplah anak kecil yang masih membutuhkan bantuan. Memperlakukan orang dewasa layaknya anak kecil biasa disebut infantilisasi. Kondisi ini menciptakan orang dewasa yang harus selalu diberitahu apa yang harus di lakukan dan bagaimana melakukannya.

Mengacu pada klikdokter.com, adanya dampak negatif dari infantilisasi pada anak yang sudah beranjak dewasa akan merasa terhina, dianggap selalu tidak bisa melakukan apa-apa dan membuat dirinya marah dan kesal. Efek terburuknya adalah punya perasaan benci terhadap orangtuanya. Pola asuh dari orangtua narsistik membuat hubungan antara anak dan orangtua terkesan kaku karena orangtua yang bersikap keras terlebih saat anak melakukan kesalahan. Dampak yang didapatkan anak yaitu menghambat perkembangan kepribadian.

Baca Juga:  Manfaat dan Risiko Penggunaan Empeng Pada Bayi

Di kutip dari hellosehat.com dampak dari pola asuh ini, anak menjadi pribadi yang  mudah menyalahkan diri sendiri. Anak sudah terbiasa melakukan hal sesuai aturan orangtua, akibatnya saat mereka mencoba melakukan sesuatu anak akan mudah mengalami keraguan, kegelisahan mengambil keputusan dan kepercayaan diri yang rendah. Hingga anak pun mudah larut dalam penyesalan dan cenderung menyalahkan diri sendiri.

Anak tumbuh menjadi orang yang independen. Hal ini bukan didasari dari sikap yang mandiri namun pandangan bahwa tidak ada orang yang dapat dipercaya. Akibatnya anak akan sulit mengalami kedekatan emosional dengan orang lain. Dampak selanjutnya yaitu, anak kurang memperhatikan diri sendiri. Ia akan memiliki sifat sensitif dan merespon sikap narsistik orangtuanya dengan memperdulikan kebutuhan orang terdekatnya termasuk orangtua. Hal ini berdampak negatif pada dirinya yaitu kurang memperhatikan kebutuhan dirinya, hingga dapat membenci diri sendiri karena takut membebani orang lain.

Efek domino yang mungkin saja dialami oleh sang anak akibat mendapatkan pola asuh narsistik seumur hidupnya. Mereka cenderung mengikuti pola asuh seperti pandangan orangtuanya. Mungkin saja terjadi anak tumbuh menjadi orang yang narsistik lebih mementingkan pekerjaan dengan jabatan tinggi, dan  pencapaian dalam hidupnya adalah hal yang paling penting.

Setiap orangtua memang mempunyai pola asuhnya berbeda-beda yang dipengaruhi oleh berbagai karakter. Namun, alangkah baiknya jika Fams ada yang menerapkan pola asuh narsistik seperti diatas, sebelum terlambat mari dibenahi dari sekarang agar tidak mempengaruhi kesehatan mental anak di masa tumbuh kembang hingga ia dewasa nanti.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *