Seni Mendidik Anak: Terapkan Disiplin Bukan Hukuman

Seni Mendidik Anak: Terapkan Disiplin Bukan Hukuman

Farenting.com – Selama masa pandemi Covid-19 ini, anak-anak melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah. Dilihat dari banyaknya perubahan kebiasaan perilaku yang terjadi, seperti pola waktu tidur, sikap saat belajar, penggunaan gadget, dan perubahan-perubahan yang lain. Alhasil, orangtua menjadi kebingungan harus bersikap seperti apa. Hal inilah yang menjadikan SDK 6 Penabur Jakarta mengadakan Webinar Parenting (2/10/20), dengan tema: The Art of Discipline. Webinar ini diselenggarakan untuk orangtua wali murid melalui aplikasi Zoom dan Live melalui kanal Youtube-nya,

Andi Agus Gunawan S.Psi, S.Th sebagai pemateri Webinar menuturkan, sebagai orangtua harus memiliki ide sebanyak-banyaknya. Selalu ingat, setiap anak itu punya kepribadian yang berbeda dan hal itu menjadikannya unik. Sikap disiplin itu tidak sama dengan hukuman. Hukuman itu memberikan konsekuensi yang tidak diinginkan, sedangkan disiplin dalam konteks yang artinya mengajar, memberi tahu apa yang penting atau apa yang harus anak lakukan. “Masih banyak yang keliru dalam pemahaman ‘hukuman akan membuat anak disiplin’, padahal dari segi konteks jelas berbeda, disiplin sifatnya positif sedangkan hukuman cenderung negatif,” terang Agus sapaan akrabnya.

Pendidikan hadir dalam beberapa cara, yakni memberi contoh, memberi instruksi, berbicara, melakukan, dan mengoreksi. Orangtua yang baik adalah orangtua yang mampu memahami kurang dan lebihnya anak. Orangtua yang bijak dapat menerapkan didikan disiplin, tetapi bukan dengan hukuman. Anak akan patuh pada orangtua yang memberikan ia kebebasan dalam bertindak, mengekspresikan diri, mengutarakan pendapat, dan hal lainnya. Namun, tak dapat dipungkiri jika sikap anak turunan dari sikap orangtuanya.

Orangtua seringkali tidak menunjukkan pendekatan yang positif ketika harus mengoreksi anak-anak mereka jika berbuat salah. Padahal, koreksi adalah salah satu cara agar anak-anak dapat belajar dan memahami situasinya. Orangtua perlu mempunyai pandangan tentang koreksi yang memuridkan. Contohnya, saat anak yang bersikap terus-menerus mengganggu saudara atau temannya, merengek-rengek ketika minta sesuatu, bertengkar, semuanya itu mempunyai satu kesamaan, yakni kebutuhan untuk menyesuaikan pola tingkat laku dan mengubah hati.

Saat sesi tanya jawab dibuka, banyak sekali Moms yang hendak bertanya, salah satunya adalah Moms Welhelmina, “Bagaimana cara papa dan mama berdamai dengan pola asuh yang ia terima di masa lalu, agar menjadi satu suara dan sehari dalam mendidik anak-anak?” Agus menjawab, jika dalam pengasuhan masa lalu membuat orangtua menjadi traumatik, maka disarankan untuk melakukan konseling dengan psikolog. “Jika hal seperti ini belum terselesaikan, maka pola asuh di masa lalu akan turun dan tanpa sadar kita akan mengulang kembali apa yang terjadi pada anak kita sekarang, sehingga apa yang dilakukan anak itu tidak beda jauh dengan apa yang dilakukan orangtuanya di masa lalu,” pungkasnya.

Baca Juga:  Fams, Kenali Penyebab Disharmoni Gigi Pada Anak

Intinya, kebanyakan anak membutuhkan pendekatan dalam berbagai segi, bukan hanya kata-kata. Tetapi, penggunaan kata-kata juga menjadi perlu dan harus menggunakan kata yang bersifat positif dan membesarkan hati. Perlu kiranya orangtua mengubah kosa kata di luar kebiasaan sehari-hari. Cari cara untuk meneguhkan anak-anak dan segala sesuatunya dengan cara yang lebih positif. Maka dari itu, Fams harus berhati-hati dalam bertutur dan bersikap. Jika Fams dapat mengikuti 5 poin di atas maka anak juga akan menirunya dengan baik dan sesuai arahan orangtuanya.

Bagikan yuk!

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *