Seni Berkomunikasi Antar Orangtua dan Anak Selama #dirumahaja

Seni Berkomunikasi Antar Orangtua dan Anak Selama #dirumahaja

sumber : kumparan.com

Farenting.com – Komunikasi adalah kunci penting dalam hubungan antar orangtua dan anak. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, orangtua lebih banyak waktu di rumah bersama anak. Seorang peneliti melakukan survei kesehatan mental pada fase pandemi Covid-19 kepada kurang lebih seribu subjek dengan variasi rentang usia remaja (SMA) hingga lansia di Indonesia. Hasilnya remaja harus beradaptasi dengan tugas online yang diberikan guru dengan penggunaan teknologi digital sebagai alat belajar. Hal itu membuat orangtua mendapatkan peran baru sebagai guru di rumah. Orangtua dituntut untuk belajar apa yang dipelajari anak dan bagaimana cara mengajarnya. Mengajar anak sekaligus melakukan aktivitas rutin harian harus dilakukan orangtua ditambah lagi jika mereka diharusnya Work From Home. Tentu membutuhkan pembagian waktu untuk mengerjakannya.

Di masa ini anak dan orangtua dituntut untuk adaptasi dengan kondisi baru. Sehingga rumah yang isinya keluarga menjadi wadah penting untuk beradaptasi yang efektif dan menjadi pusat kegiatan anggota keluarga. Maka dari itu dibutuhkan Strenght Family atau keluarga tangguh yang ditandai dengan melakukan komunikasi positif. Apa yang kita ucapkan atau berbicara dan sikap tubuh, hal itu dipengaruhi pikiran, kondisi emosi dan perasaan kita. Sehingga ketika fams marah pada anak karena menganggap anak tidak memahi, secara reflek fams akan membentak. Begitu pula saat merasa bahagia karena prestasi anak, tanpa sadar fams akan tersenyum.

Fams tahu enggak Drama Korea yang berjudul “A World of Married Couple“ ? Fams bisa memperhatikan bagaimana perasaan bisa mempengaruhi cara berbicara atau berkomunikasi dengan anak. Kita dapat membandingkan cara berkomunikasi anak, ibu dan teman ibunya. Teman ibunya mampu mengontrol emosi dan pikirannya dalam situasi apapun. Dan ia mampu memposisikan dirinya sama atau setara dengan si anak, seolah-olah mereka adalah teman yang sama derajatnya. Sehingga dengan kondisi seperti itu anak akan merasa nyaman dan mau untuk membuka diri dan berbicara. Sedangkan si Ibu mudah cemas terhadap anaknya. Efek yang ditimbulkan karena kecemasan ibu, ia mudah marah pada anak. Sikap anak pun berteriak untuk mengungkapkan rasa marahnya terhadap ibu. Maka dari itu, komunikasi antar orangtua dan anak dipengaruhi oleh kondisi pikiran dan perasaan masing-masing pihak.

Dalam Kuliah WhatsApp atau Kulwhap yang diisi oleh Retno Firdiyanti, M.Psi, Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi UMM memberikan tips kepada orangtua untuk melakukan komunikasi positif pada anak selama di rumah aja.

Pertama, Tidak mencela, memaki atau menjatuhkan anak. Berikanlah apresiasi sekecil apapun yang telah dilakukan anak agar ia merasa dihargai. Dengan begitu motivasi anak dalam belajar akan terus berkembang dan rasa percaya dirinya akan semakin meningkat.

Kedua, Mengubah kalimat instruksi menjadi kalimat pertanyaan. Hal ini bertujuan memberikan ruang berpikir pada anak dan menumbuhkan motivasi untuk hal yang orangtua inginkan. Impian orangtua ingin anaknya selalu nurut. Namun fams perlu memperhatikan, anak tidak harus selalu setuju dengan keinginan orangtua. Orangtua perlu memahami anak, mengapa ia tidak setuju dan mendengarkan pendapat anak lalu didiskusikan untuk menemui jalan tengahnya.

Baca Juga:  Opini : Memelihara Hewan Untuk Anak, Bermanfaat Atau Menyulitkan Orangtua?

Ketiga, Mencintai tanpa syarat. Ketika anak melakukan kesalahan dan ia mampu mengakuinya, tetaplah untuk memeluk dan menyayangi mereka. Kesalahannya adalah sebagian dari proses belajar. Ketika anak tahu hal yang dilakukan benar atau salah, fams bisa memberikan ruang ia berpikir terlebih dahulu, sebelum menjelaskan sebab akibat dari apa yang dia lakukan. Proses komunikasi memang menjadi lebih panjang. Namun anak membutuhkan “pengalaman” yang mengena dalam proses belajarnya.

Terakhir, Pintar bermain peran. Orangtua harus tahu kapan menyesuaikan anak menjadi sahabatnya dan kapan orangtua berbicara pada anak layaknya orangtua dan anak.

Banyak yang bertanya mengenai hal apa saja yang tidak bisa orangtua tuntut terhadap anak. Jawabannya adalah orangtua harus memahami perkembangan anaknya terlebih dahulu. Seberapa mampu anak melakukan suatu tugas, apakah sudah waktunya atau belum untuk menguasai. Sehingga sebagai orangtua sebelum menuntut perlu memperhatikan keinginannya apakah anak sudah mampu mencapai itu apa belum.

Selama pandemi Covid-19 memang mengharuskan kita di rumah 24 jam bersama anak. Yuk, ciptakan rumah yang nyaman untuk keluarga dengan menerapkan komunikasi positif. Buatlah kegiatan yang bermakna untuk menghilangkan stres dan menjalin kedekatan pada anak. Mungkin kesibukan kita menyita banyak waktu, sehingga kita lupa untuk memberikan makna yang kita lakukan agar lebih berkesan dalam sebuah proses belajar.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *