Photostory: Malaikat Kecil di Balik Jeruji Besi

Photostory: Malaikat Kecil di Balik Jeruji Besi

Sumber : kitabisa.com

Farenting.com – “Kita tidak akan bisa memilih lahir dari rahim siapa, kapan, dan di mana”, pepatah lama yang bisa menggambarkan potret para malaikat kecil tak berdosa di balik jeruji. Tidak berbuat salah namun turut mendapat masalah adalah situasi yang saat ini dialami para bayi di dalam tembok penjara, mengikuti ibunya menebus dosa di pesakitan.

Tangan-tangan mungilnya menggenggam dinginnya pintu jeruji besi. Sedari kecil mereka dipaksa berdamai dengan dinginnya ubin dan pengapnya udara di dalam lapas. Tak ada ibu yang tega melihat malaikat kecilnya harus ikut menjalani masa penghukuman dan mendekam di penjara. Sebagai seorang ibu yang terjerat hukum, masalah dilematis kerap terjadi ketika memilih untuk berada jauh dari si kecil atau membawanya dalam menebus dosa.

Menurut peraturan pemerintah republik Indonesia nomor 32 tahun 1999 anak dari warga binaan diizinkan untuk dibawa ke dalam lapas ataupun yang lahir di dalam lapas, paling lama sampai umur 2 tahun. Sejatinya penjara jelas bukan tempat yang layak dan ideal untuk membesarkan anak. Seharusnya anak bisa menghirup udara bebas dan memperoleh pendidikan yang layak serta kasih sayang penuh dari keluarga. Namun realitanya para ibu ini tak memiliki pilihan lain untuk tak berpisah dengan si buah hati. Naas nasibnya mereka harus terkungkung di bilik penjara menunggu hari kebebasan. Inilah secercah kisah para malaikat kecil di balik jeruji besi.

“Halo dunia! Namaku Jati, sedari lahir aku menemani ibu lho di balik penjara. Aku adalah anak laki-laki kebanggaan ibuku”. Jati dilahirkan oleh narapidana asal mojokerto yang saat ini menghuni Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Malang. (gambar diambil dari BBC Indonesia)

Jika ASI tak cukup, si kecil harus minum susu formula. Untuk bisa membeli susu formula para ibu narapidana harus bekerja dahulu di dalam lapas. (gambar diambil dari BBC Indonesia)

Tumbuh kembang para bayi selalu diperhatikan. Ketika lahir, setiap bulannya rutin dilakukan pemeriksaan untuk ibu dan anak. (gambar diambil dari BBC Indonesia)

Ruangan ibu dan anak berkapasitas 10 orang ini menjadi saksi para bayi dibesarkan. Sedari kecil mereka tumbuh bersama di ruang kecil untuk bertahan hidup. Aroma bedak bayi yang biasa tercium serta tangisan bayi menjadi memori indah bentuk cinta para ibu yang masih bisa merawat anaknya. (gambar diambil dari BBC Indonesia)

Menginjak usia 1 tahun seharusnya para bayi ini bisa menghirup udara bebas dan melihat indahnya dunia di masa golden age. (gambar diambil dari kitabisa.com)

Selama di dalam lapas, para anak ini tidak memiliki figur ayah. Imbasnya ketika bertemu pengunjung atau petugas pria maka mereka memanggilnya “bapak”. (gambar diambil dari BBC Indonesia)

Walaupun nasibnya tak seindah dengan anak-anak yang hidup di luar lapas, para anak ini tak pernah bersedih. Semua narapidana dan petugas dengan hangat memberikan cinta dan kasih sayang. (gambar diambil dari BBC Indonesia)

Dekapan erat salah seorang narapidana dengan anaknya yang dicintainya (gambar diambil dari Merdeka.com)

Ketika usia anak telah menginjak 2 tahun, narapidana harus merelakan buah hatinya untuk dibesarkan keluarga di luar lapas sesuai aturan yang berlaku (gambar diambil dari liputan6.com)

Walaupun harus dibesarkan di balik jeruji besi, kasih sayang seorang ibu pada anaknya tidak akan pernah memudar. Segala hal akan dilakukan untuk bisa bersama dekat dengan buah hati tercinta. (gambar diambil dari liputan6.com)

Hingga akhirnya para narapidana harus menunggu waktu kebebasan untuk bisa bertemu lagi dengan malaikat kecilnya. (gambar diambil dari BBC Indonesia)

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *