Peran Ibu Cerdik dalam Edukasi Seks Anak Sejak Dini

Peran Ibu Cerdik dalam Edukasi Seks Anak Sejak Dini

Farenting.com – Edukasi seks pada anak sebaiknya dilakukan sejak dini. Pada nyatanya, hal ini masih sangat tabu di kalangan keluarga Indonesia. Lantas bagaimana seharusnya memberi edukasi seks yang benar pada si kecil?

Indonesia yang mengacu pada adat budaya ketimuran membuat stereotipe tersendiri tentang memberi edukasi seks sejak dini. Selama ini pendidikan seks pada usia dini dianggap tabu dan aneh bagi para orang tua dan keluarga. Mereka berpendapat bahwa itu belum pantas diberikan. Pada nyatanya hal tersebut sangat berguna bagi anak ketika ia memasuki usia remaja nanti. Melihat dari besarnya angka kasus kekerasan dan pelecehan seksual di pertengahan tahun 2020 yang dilansir dari lokadata.id angkanya tak menurun dari tahun sebelumnya.

Mirisnya adalah mayoritas kasus pelecehan terhadap anak justru dilakukan oleh keluarganya sendiri. Kasus pernikahan akibat fenomena inses saat ini sedang muncul ke permukaan. Sungguh potret memilukan melihat betapa menyedihkannya moral tak beradab tersebut. Keluarga yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi neraka. Nah Moms, hal tersebut bisa ditangani jika sejak dini diajarkan pada si kecil. Moms berperan sangat penting untuk mengedukasi anak dan anggota keluarga.

Menurut jurnal EGALITA yang merupakan jurnal kesetaraan dan keadilan gender, pendidikan seks sejak dini dapat memberikan pemahaman anak tentang kondisi tubuhnya, pemahaman lawan jenisnya, dan pemahaman untuk menghindarkan dari kekerasan seksual. Pendidikan seks yang dimaksud adalah anak mulai mengenal akan identitas diri dan keluarga, mengenal anggota-anggota tubuh mereka, serta dapat menyebutkan ciri-ciri tubuh. Pernahkah moms mendapat pertanyaan dari anak mengenai nama organ vitalnya? Seperti “Bu ini tempat keluarnya pipis namanya apa?” Pertanyaan ini kerap terjadi tentunya, dan para Moms biasa memberi nama organ vital anaknya dengan menggantinya menjadi sebutan burung, pepet, apem, atau menggunakan bahasa daerah masing-masing. Para Moms takut jika memberitahu yang sebenarnya karena tabu dan terkesan jorok.

Para Moms bisa melakukan beberapa hal untuk mengedukasi anak tentang alat vitalnya seperti yang dilansir dari popmama.com :

Pertama, menggunakan sebutan yang tepat untuk menjelaskan alat kelamin. Beritahu anak sebutan yang sebenarnya seperti penis, vagina, dan anus. Sebutan tersebut tidak buruk, karena membantu anak memahami dan mengenal mengenai tubuh mereka.

Kedua, menghindari kata pengganti. Hal ini sering sekali dilakukan para Moms di Indonesia. Justru jika orangtua menggunakan kata pengganti karena malu untuk mengatakan istilah yang sebenarnya, maka sama saja orangtua telah memberikan gagasan kepada anak bahwa beberapa bagian tubuhnya itu kotor, buruk dan memalukan.

Ketiga, gunakan kata sebenarnya dalam sehari-hari. Para Moms harus membiasakan atau membuat budaya baru pada anak untuk menyebut organ vitalnya dengan nama yang sebenarnya. Jangan takut Moms, hal ini akan membuat anak paham bahwa organ vitalnya harus dilindungi agar terhindar dari pelecehan seksual. Jika Moms menyamarkan nama organ vitalnya justru akan membuat anak merasa hal tersebut tabu dibicarakan.

Dr Rose Mini AP, M Psi psikolog pendidikan menuturkan, pendidikan seks bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. “Pendidikan seks wajib diberikan oleh orang tua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak mulai masuk play group atau taman bermain sekitar usia 3-4 tahun, karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh,” tuturnya.

Baca Juga:  Ibu Hamil Tak Perlu Cemas Melahirkan Saat Pandemik

Moms, memberi pendidikan seks kepada anak sejak dini juga harus memperhatikan usia dan tingkat pemahaman mereka. Beri penjelasan yang mudah diterima si kecil. Ada beberapa tahapan usia yang perlu Moms ketahui untuk lebih paham cara memberikan pendidikan seks sesuai dengan tingkat usia anak.

  • Tahap balita (usia 1-5 tahun)

Pada usia ini moms sudah bisa memberikan pendidikan seks pada anak. Mulailah dengan mengenalkan nama organ-organ seks yang anak miliki secara singkat. Tak perlu mendetail karena rentang waktu atensi anak biasanya pendek.

  • Tahap usia 3-10 tahun

Pada masa ini anak akan lebih aktif bertanya tentang seks. Misalnya anak akan bertanya darimana ia berasal? Ia dilahirkan lewat mana? Para moms harus menjawab dengan jujur semua pertanyaan tersebut. Moms bisa menjawab bahwa si anak berasal dari perut ibu. Moms juga bisa tunjukkan seorang ibu yang sedang hamil dan menunjukkan lokasi bayi di perut ibu tersebut. Lalu dari mana mereka dilahirkan, moms bisa dengan lugas memberitahu lewat vagina agar bisa keluar.

  • Tahap usia remaja

Pada tahap ini anak semakin berkembang. Anak akan melewati rangkaian masa puber, seperti haid pada anak perempuan dan mimpi basah bagi anak laki-laki serta perubahan fisik. Moms bisa memberitahu pada si gadis kecil bahwa ia akan mengalami perubahan bentuk pada payudaranya, atau terangkan pada anak akan adanya tumbuh bulu-bulu di area kelaminnya. Pada masa ini, seorang remaja akan banyak mengalami banyak perubahan secara seksual. Moms perlu lebih intensif menanamkan nilai moral yang baik ya kepadanya.

Mari kita lindungi anak dengan memberi bekal ilmu ya moms. Jangan malu dan ragu untuk mencerdaskan si buah hati. Siapa lagi kalau bukan para moms? Ibu cerdik harus punya cara asyik untuk mengedukasi si kecil.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *