Peran Ayah dalam Mendidik Karakter Anak

Peran Ayah dalam Mendidik Karakter Anak

Farenting.com – Tak hanya peran ibu yang bertanggungjawab dalam mendidik anak, pun demikian halnya dengan ayah. Buang jauh-jauh persepsi bahwa ayah adalah sosok sang pencari nafkah bagi keluarga. Kenyataannya, ada banyak contoh single parent yang justru berhasil dalam memerankan sosok ayah dan ibu sekaligus, mendidik dan mencari nafkah.

Sebuah jurnal ilmiah yang digagas Heman Elia mengungkapkan bahwa Ayah memperkenalkan dan membimbing anak-anaknya untuk mengarungi dunia luar atau kehidupan bermasyarakat. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa ibu dan ayah memang memiliki peran berbeda dalam mendidik anak, namun tetap memiliki tugas yang sama untuk membangun karakter anak. Jurnal tersebut juga menjelas bahwa Ayah memiliki tiga tanggung jawab dalam keluarga, yang pertama yaitu bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, bertanggungjawab dalam memberikan pendidikan agama kepada anak, dan bertanggungjawab dalam memberikan pendidikan disiplin kepada anak.

Sebuah jurnal lain yang digagas oleh Erna Rahmawati Wibawanti menjelaskan bahwa ayah sangat berperan penting bagi anak remaja dalam mengarahkan mereka menuju masa dewasanya. Peran Ayah adalah suatu peranĀ  yang dijalankan untuk mengarahkan anak mempersiapkan masa dewasa mereka baik secara fisik maupun biologis.

Hal serupa dijelaskan oleh Dinda Septiani dalam jurnal-nya. Ia menjelaskan bahwa kualitas pengasuhan ibu dan ayah harus disejajarkan, karena pengalaman yang didapatkan anak bersama sang ayah akan mempengaruhi perkembangan mereka hingga dewasa nanti.

Nah, tim Farenting telah merangkum Peran Ayah dalam Mendidik Anak seperti dilansir dari id.theasianparent.com.

Pertama, Kekhawatiran ayah. Pemikiran bahwa ibu memegang kendali besar dalam mengurus segala hal yang dibutuhkan si kecil, sedangkan tugas ayah hanya membantu dengan cara mencari nafkah. Tak jarang membuat para ayah ragu akan perannya dalam membesarkan anak, loh. Pola pikir tersebut malah membuat ayah merasa khawatir berlebih bahkan berpikir bahwa kehadirannya tidak terlalu dibutuhkan oleh buah hati.

Maka tak heran, banyak yang menyebutkan bahwa proses menjadi ayah yang baik itu lebih sulit daripada menjadi ibu yang baik. Benar, menjadi sosok ayah yang baik memang sulit, tapi bukan berarti hal itu tidak bisa diwujudkan, loh.

Justru, satu penelitian menunjukkan bahwa setiap pria sebenarnya telah dirancang menjadi sosok orangtua yang baik tanpa mereka sadari. Naluri pria menjadi lebih kuat ketika ia sudah memiliki anak. Aktivitas di sekitar inti otak akan semakin meningkat, sehingga pria juga punya insting tinggi dalam menjaga anak sama seperti ibu meski cara penyampaiannya berbeda.

Kedua, Interaksi antara ayah dan anak. Untuk membangun hubungan baik dengan anak sebenarnya tidak susah. Dads bisa memulainya dengan hal sederhana seperti bercanda dengan anak atau menyapanya saat bangun tidur. Interaksi sehari-hari yang tampak sepele itu lama-lama akan meningkat dan tanpa sadar dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan emosional anak.

Satu hal yang unik, anak juga biasanya punya respon berbeda dalam beinteraksi dengan orangtua. Ketika orangtua menghabiskan waktu dengan buah hati, otak mereka melepaskan hormon oksitoksin dan dopamin yang dapat mempererat hubungan keduanya. Hormon tersebut diterima ibu saat mengasuh anak, dan ayah mengalami peningkatkan hormon itu selama bermain dengan anak.

Baca Juga:  Panduan Lengkap Persiapkan Bulan Madu

Meski aktivitas yang diberikan ayah dan ibu terbilang berbeda, tetapi anak tetap akan menerima atau meniru kadar oksitoksin yang dihasilkan oleh otak kedua orangtuanya. Dalam artian, anak akan merasa bahagia apabila Dads juga merasa bahagia saat menghabiskan waktu dengan mereka.

Peran ayah dalam mendidik anak membuat Dads menjadi pribadi yang lebih baik pula. Dads memang akan mengalami banyak perubahan ketika menjadi ayah. Dikutip dariĀ researchgate,Ā kadar hormon testosteron pria akan cenderung berkurang saat ia memiliki anak. Perubahan ini sebenarnya hadir untuk membantu setiap ayah untuk tetap setia bersama keluarga dan berusaha menjadi ayah terbaik bagi anaknya.

Jangan khawatir, kadar testosteron yang lebih sedikit tidak akan membuat derajat Dads sebagai laki-laki turun. Justru, ketika Dads bisa setia bersama keluarga dan menjadi panutan bagi anak-anak, Dads juga otomatis akan menjadi contoh yang baik bagi laki-laki lainnya.

Nah, jadi buang jauh-jauh persepsi bahwa Ayah tidak memiliki peran dalam mendidik anak. Ayah dan Ibu adalah orangtua yang saling melengkapai dalam perjalanan tumbuh kembang anak menuju masa dewasa. Jangan sia-siakan momen bersama anak karena kelak sang buah hati juga akan menjadi orangtua.

Bagikan yuk!

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *