Opini: Stop Bilang “Tidak” dan “Jangan” pada Anak

Opini: Stop Bilang “Tidak” dan “Jangan” pada Anak

Farenting.comFams, sebagai orangtua apakah sering melarang sesuatu kepada anak? Bahkan, sering berkata “jangan” atau “tidak”? Ternyata hal tersebut dapat menjadi dampak serius lho pada anak. Jangan pernah meremehkan efek kata-kata yang dilontarkan pada anak. Kebanyakan orangtua tidak sadar atau sudah menjadi kebiasaan untuk berkata “tidak”, walaupun tujuannya agar anak tetap aman.

Bersyukur masa kecil saya tidak dipenuhi dengan larangan dan kekangan orangtua. Sesekali orangtua pasti pernah mengatakan “tidak”, namun masih pada konteks yang mengharuskan untuk bersikap tegas. Nah, Fams jangan menjadi orangtua yang membiasakan berkata “tidak” dan “jangan” pada si kecil. Alangkah lebih baiknya mengganti kata larangan tersebut dengan penjelasan. Misalnya jika si kecil ingin membeli permen atau es krim, Moms jangan langsung berkata “tidak” atau “itu tidak dijual” kepada anak. Hasilnya malah hanya akan membuat anak Fams menangis.

Di lingkungan tempat saya tinggal, masih banyak Moms yang suka membatasi ruang gerak anak. Jika anaknya ingin pergi keluar rumah untuk bermain, orangtuanya akan melarang dan memicu tangisan hingga menyebabkan anak menjadi tantrum. Dampak yang muncul, karena Fams terlalu membatasi ruang gerak anak dengan berkata “tidak” dan “jangan” ini akan membuat ia menjadi tidak penurut. Padahal tujuan awal adalah membuat si kecil menjadi disiplin.

Kemungkinan dengan dua kata tersebut dapat menimbulkan rasa benci dan membentuk kepribadian si kecil yang berontak, Fams. Dikutip dari artikel Kumparan Moms, Audrey Ricker, Psy.D, penulis dari buku Backtalk: 4 Steps in Ending Rude Behavior in Your Kids, menuliskan, penggunaan kata ‘tidak’ terlalu sering dapat membuat anak peka terhadap artinya. Maksudnya, si kecil akan memahami bahwa ia tidak diizinkan untuk melakukan banyak hal karena dibatasi. Sama halnya dengan psikolog True Parenting, Sally Azaria menuturkan, terlalu banyak mengatakan “jangan” pada anak itu tidak baik, tapi bukan berarti menghilangkan nol persen tidak boleh sama sekali mngatakan kata tersebut. “Anak butuh batasan dan arahan,sebagai orangtua kita harus memberikan itu,” tambahnya.

Contoh Moms, ketika anak sedang mewarnai sebuah gambar. Lalu ia mewarnai sebuah gambar daun dengan warna merah atau mewarnai sebuah pohon dengan warna biru. Sebagai orangtua yang bijak, jangan langsung berkata “jangan” pada si kecil. Hal tersebut hanya akan membatasi kreativitas dan imajinasinya saja. Alternatifnya, jika dalam kondisi seperti ini, Fams dapat menggantinya dengan sebuah pertanyaan, “kak, ini kenapa daunnya diwarnai warna merah?”, maka akan melatih anak berbicara untuk mengeluarkan pendapat dan kreativitasnya.

Mulai dengan membiasakan berkata kalimat yang positif pada anak. Dilansir dari Halodoc Fams, dapat mengganti kata larangan “tidak” dan “jangan” menjadi kalimat seperti berikut:

Pertama, Berikan Pemahaman Kepada Anak. Daripada berteriak marah-marah kepada anak yang sedang mengaduk-aduk dan membuang makanannya, orang tua bisa memberi pengertian yang benar kepada anak mengapa ia tidak boleh membuang makanan. Misalnya seperti, “Makanan bukan untuk dimainkan, sayang, tapi untuk dimasukkan ke dalam mulut dan ditelan”. Dan jika si kecil melakukan sesuatu yang baik, seperti menghabiskan susunya, berilah pujian kepadanya.
Kedua, Gunakan Kalimat Larangan yang Positif. Cara bijak lainnya melarang buah hati adalah dengan mengganti kata larangan dengan kalimat yang positif. Misalnya, daripada berkata “Jangan mencorat-coret tembok!”, lebih baik gunakan kalimat “Corat coretnya di kertas aja, yuk”, atau jika ingin melarang anak untuk tidak terlalu banyak makan kerupuk, orangtua bisa mengganti kalimat larangan, “jangan makan kerupuk terus dong!” dengan “makan kerupuknya hanya boleh satu ya, hari ini anak baik”.

Ketiga, Beri Contoh Langsung. Mendisiplinkan anak dengan memberikan contoh secara langsung juga bisa menjadi cara yang lebih efektif daripada hanya memberikan larangan. Contohnya, ketika anak merebut mainan dari anak lain, ibu bisa menjelaskan kepadanya, “Tidak boleh merebut mainan orang lain, ya. Kalau mau main, harus bilang ‘pinjam ya’. (sambil mencontohkan)”. Setelah itu, ajari anak untuk mengembalikan mainan yang sudah dipinjamnya dari orang lain, karena mainan tersebut bukan miliknya.
Keempat, Latih Anak untuk Bertanggung Jawab. Bila anak membuang-buang mainannya dan membuat kamar menjadi berantakan, kamu bisa memberikan box tempat menyimpan mainan kepadanya dan ajari ia untuk memunguti satu persatu mainannya, lalu memasukkannya ke dalam box. Dengan demikian orang tua jadi melatih si kecil agar bertanggung jawab atas perbuatannya.

Baca Juga:  Long Distance Marriage, Merawat Cinta Hubungan Jarak Jauh

Kelima, Berkata “tidak” Bila Terpaksa. Jika berbagai cara yang sudah disebutkan di atas tidak berhasil diterapkan pada anak, maka orangtua harus berkata “tidak”. Kata tersebut tidak boleh diucapkan dengan emosi, namun harus tegas, sehingga anak tahu bahwa kamu benar-benar serius melarang perbuatannya. Pertegas juga keseriusan dengan bahasa tubuh ketika melarang anak.

Keenam, Ingatkan konsekuensi dari perbuatannya. Si Kecil sering bangun terlambat, sehingga sering telat pula datang ke sekolah. Daripada berkata, “sudah dibilang berkali-kali jangan terlambat bangun. Kamu nggak peduli,” lebih baik pilih kalimat yang lebih rasional. Jika ia sudah dapat diajak berpikir, Fams dapat mengatakan hal seperti, “perjalanan ke sekolah setengah jam. Jadi kalau kamu terlambat bangun, harus menjelaskan alasannya ke guru dan dapat poin merah.” Kalimat seperti ini tidak menghakimi, tidak mengontrol atau menunjukkan kecemasan. Namun, anak akan belajar menyadari konsekuensi dari tindakannya.

Nah Fams, itu adalah alternatif dari kalimat larangan jika sering berkata “tidak” dan “jangan” pada anak. Setiap keluarga memang punya gaya pengasuhan atau parenting masing-masing. Tetapi, sebaiknya pola asuh yang diterapkan dapat membangun rasa saling menghormati dan menghargai, yang tercermin dalam kata-kata yang diucapkan pada satu sama lain. Oleh sebab itu, gunakan frasa singkat, jelas, ringkas, serta positif, untuk menyiratkan alasan anak tidak boleh melakukan sesuatu. Fams juga bisa mengganti kata tersebut dengan ‘stop’ atau ‘berhenti’ disertai dengan penjelasan mengapa ia harus menghentikan perilakunya.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *