Opini: Latih Anak Agar Terbiasa Puasa, Bukan Dipaksa-paksa Baru Terbiasa

Opini: Latih Anak Agar Terbiasa Puasa, Bukan Dipaksa-paksa Baru Terbiasa

sumber: tempo.co

Farenting.com – Setiap kali memasuki bulan puasa, banyak timbul pro dan kontra antara para orangtua. Ada yang mengajari anaknya puasa setengah hari, ada pula yang membiarkan anak tidak berpuasa hingga dirasa sudah cukup usia. Perbedaan ini bisa terjadi lantaran kesimpang-siuran rujukan berita dan pengalaman hidup setiap orangtua. Syariat Islam sendiri memberikan patokan bahwa anak wajib berpuasa ketika sudah memasuki masa akil balig—anak laki-laki ditandai dengan sudah mengalami mimpi basah, sedangkan anak perempuan ketika sudah mengalami menstruasi.

Biasanya anak mengalami hal-hal tersebut di rentang usia 9-15 tahun. Di Indonesia sendiri, banyak orangtua yang mengajarkan anak puasa sejak usia belia. Ustadz Bendri Jaisyurrahman, konselor dan aktivis gerakan Sahabat Ayah, menjelaskan bahwa anak bisa dibiasakan berpuasa pada usia yang sama saat diajarkan ibadah lainnya, yakni pada usia di atas lima tahun. Artinya, anak sudah boleh diajarkan berpuasa, meski hanya mengamati atau dengan puasa setengah hari terlebih dahulu.

Jika dilihat dari sisi kesehatan, Dr. Dian Permatasari, M.Gizi SpGK, seorang pakar gizi, mengatakan puasa bisa meningkatkan daya tahan tubuh anak sehingga tidak mudah sakit. Hal ini karena puasa bisa mencegah datangnya stress osidatif pada tubuh, sehingga anak tidak akan mudah terkena inflamasi atau peradangan yang dapat berlanjut menjadi penyakit. Lebih lanjut, artikel doktersehat.com memaparkan bahwa kesehatan fisik, emosional, dan spiritual anak juga akan semakin baik dengan berpuasa.

Sayangnya, pendapat tersebut dibantah oleh para dokter dari Jerman. Mereka bahkan meminta para orangtua muslim untuk tidak mendorong anak-anaknya berpuasa. Bukan karena Islam menjadi minoritas, tetapi karena puasa dianggap berbahaya jika diterapkan pada anak. “Kami selalu menemukan anak-anak yang pucat dan tidak fokus selama Ramadahn,” kata para Dokter Jerman, dikutip dari BBC. Beberapa siswa bahkan mengalami pingsan karena sakit kepala atau sakit perut yang parah.

Selain dokter, asosiasi guru di Jerman juga sudah mewanti-wanti kelelahan yang akan dialami siswa-siswa muslim. Terlebih jika Ramadhan bertepatan dengan musim panas. Melihat kondisi ini, banyak informasi yang bisa kita ketahui bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kebijakan puasa di setiap negara. Mulai dari sosial, budaya, agama, hingga letak geografis negara, yang akan berpengaruh pada suhu dan durasi ketika berpuasa. Di Jerman sendiri puasanya bisa mencapai 19 jam lamanya.

Indonesia yang durasi puasanya relatif lebih singkat bisa menerapkan puasa pada anak-anaknya. Namun, hal ini tentu dikondisikan pula dengan kesehatan dan kesanggupan masing-masing anak. Orangtua bisa secara bertahap memberikan edukasi bagi sang buah hati. Misalnya terlebih dahulu memaparkan pada anak manfaat puasa, kemudian melatih anak dengan puasa setengah hari, tiga perempat hari, hingga akhirnya full selama seharian.

Meski puasa hanya diwajibkan pada anak yang sudah memasuki masa pubertas, tak ada salahnya membisaakan aktivitas ini sejak dini. Namun, di balik banyaknya anjuran untuk menyuruh anak puasa secara bertahap, banyak pula di antara orangtua yang memaksakan anak mereka untuk puasa penuh sampai magrib. Padahal usia mereka memang belum sampai di level itu. Jangan sampai para orangtua memaksa, hingga anak terpaksa, baru terbisaa. Ada baiknya para orangtua membuat anak puasa semampunya, beradaptasi, baru terbiasa.

Dalam hal ini orangtualah yang berperan aktif dalam memantau kondisi anaknya. Jika anak usia pra-pubertas sudah melontarkan keluhan atau pertanyaan, orangtua haruslah peka. Misalnya anak bertanya atau mengatakan,

“udah jam berapa, Ma?”

“Masih lama ngga bukanya?”

“Berapa jam lagi nih, Ma?”

“Kok lama ya?”

“Laper, mau makan.”

Baca Juga:  Bagaimana Mendidik Anak Agar Taat Aturan ketika Bermain Peran

“Boleh ngga azannya dicepetin?”

Atau ungkapan-ungkapan lainnya, orangtua harus segera memerhatikan kondisi anak. Apakah ia sangat lemas hingga kehilangan semangat beraktivitas, atau itu hanya keluhan bisaa. Jika anak masih segar atau keluhan hanya berupa candaan, orangtua bisa mengalihkan perhatian anak dengan permainan yang menyenangkan. Jika kondisi anak sangat lemas atau mengeluhkan sakit perut, maka jangan ragu untuk memberinya makan dan minum. Karena jika dipaksakan, anak bisa saja berbohong dan diam-diam meneguk sesuatud ke dalam mulutnya. Jika demikian, bukannya dapat pahala, tapi justru hanya dapat dustanya. Bahkan, jika anak terus didesak berpuasa melebihi kesanggupannya, bisa berdampak pada kesehatannya. Jangan sampai niatnya mengajarkan kebaikan berujung pada kebohongan atau penyakit yang tidak diinginkan.

Permainan itu bisa seperti bermain puzzle, What’s in the box challenge, atau bisa juga dengan aktivitas eksplorasi seperti berkebun. Selain membantu mereka melupakan rasa lapar, aktivitas tersebut juga dapat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.Jika aktivitas atau permainan dirasa terlalu berat, orangtua juga bisa memberikan gadget dan memberi tontonan yang edukatif, khususnya yang bertema Ramadhan. Misalnya serial Kartun Nussa Rara, Upin & Ipin, atau yang lainnya yang bisa menginspirasi anak untuk mengerti makna puasa. Namun, orangtua tentu harus memberikan aturan main sebelum memberi gadget, usahakan agar penggunaan gadget bisa optimal dengan durasi yang minimal (misalnya 1-2 jam sehari).

Agar kesannya tidak melulu tentang bermain, orangtua juga dapat secara langsung mengajari atau memperlihatkan anak pada aktivitas islami. Seperti misalnya mengaji, berbagi makanan pada fakir miskin, atau bersedekah. Ingatlah selalu bahwa anak adalah peniru yang ulung—lebih suka melihat atau meniru daripada mendengarkan dan hanya diperintahkan. Oleh karena itu, orangtua yang rupawan adalah mereka yang bisa menjadi teladan.

Intinya, jangan buat puasa menjadi beban yang terlalu memberatkan. Biarkan anak puasa sesuai kesanggupannya. Bila Ramadhan tahun ini puasanya sampai dzuhur, maka Ramadhan tahun depan bisa sampai asar, atau bahkan magrib. Selalu beri apresisasi berupa pujian atau reward tertentu. Lambat laun anak akan terbisaa tanpa dipaksa-paksa, ikhlas dalam menjalankan puasa.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *