Opini: Haruskah Ibu Memukul dan Berteriak Jika Anak Nakal?

Opini: Haruskah Ibu Memukul dan Berteriak Jika Anak Nakal?

sumber: kumparan.com

Farenting.com – Saya sering kali melihat anak kecil dipukul ibunya karena bertingkah “nakal”. Entah itu karena menangis kencang di tempat umum, melempar barang atau berguling-guling di lantai. Apakah itu cara terbaik agar membuat sang anak jera? Atau Moms sudah kewalahan sehingga tak ada lagi cara yang tepat? Memukul dan berteriak pun jadi pilihan.

Keadaan anak tidak bisa meluapkan emosinya ini disebut tantrum, Moms. Hal tersebut yang membuat anak menangis kencang, melempar barang atau berguling-guling di lantai sambil mengamuk jika permintaannya tidak dikabulkan. Ada 5 fase tantrum pada anak. Dimulai dari penolakan (tidak mematuhi perintah/aturan), tumbuh menjadi kemarahan disinilah anak mulai meluapkan ekpresinya, setelah itu terjadi tawar-menawar apabila hal yang diinginkan tidak dipenuhi, depresi, dan berakhir pasrah. Hal seperti ini sangat umum terjadi pada anak.

Perilaku ini tak hanya saya jumpai pada 1-2 Moms saja. Namun, di sekitar lingkungan saya semua Moms melakukan cara seperti ini. Jika dipikir anak kecil masih belum banyak mengerti, terlebih alasan mengapa dirinya dipukul dan diteriaki oleh orangtua. Semakin sering diperlakukan seperti itu, lalu bagaimana tumbuh kembang sang anak?

Namun, Moms perlu tau. Terlebih pada masa golden age anak, sekitar usia 2-3 tahun. Memukul dan berteriak dapat merusak sel otak pada anak. Berteriak saja sudah merusak 1 milyar sel otak, apalagi ditambah dengan cubitan atau pukulan, bisa mencapai lebih 1 milyar sel otak yang rusak. Itu hasil penelitan dari Lise Gliot, Associate Professor of Neuroscience dari Chicago Medical School.

Berdasarkan hasil penelitian (Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini: 2004), sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur empat tahun, 80% telah terjadi ketika berumur delapan tahun dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun.

Melansir dari doktersehat.com, menurut Martin Teicher, profesor psikiatri Harvard Medical School, ketika orang tua berteriak kepada anak-anaknya akan terjadi kerusakan struktur otak pada anak. Pada otak anak yang sering dibentak, saluran yang menghubungkan otak kanan dengan otak kiri menjadi lebih kecil. Hal ini mempengaruhi area otak yang berhubungan dengan emosi dan perhatian. Perubahan ini pada saat anak dewasa akan menyebabkan kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian, resiko bunuh diri dan aktivitas otak yang mirip dengan epilepsi.

Sepertinya masih banyak Moms yang tidak mengetahui dampak di balik ini. Anak-anak yang sering diteriaki atau dibentak dapat menciptakan anak yang tidak percaya pada orangtuanya. Anak menjadi takut dan membuat respon memberontak kepada orangtuanya. Moms mungkin tahu betul dengan apa yang dilakukan sang buah hati. Apakah anak akan selalu menurut jika Moms pukul dan bentak? Malahan anak akan tertekan bahkan ada yang balik memberontak.

Adapula dampak yang muncul akibat Moms sering memukul dan berteriak pada si kecil. Sikap anak cenderung menjadi kasar. Ia bisa saja melakukan hal yang sama kepada orang lain, entah kakak atau adiknya, hingga teman-temannya yang lain.

Alternatif yang dapat Moms lakukan agar mengontrol marah pada anak :

Pertama, bernafaslah dengan tenang. Ketika Moms akan marah pada anak, tarik nafas perlahan dan hembuskan. Tutup mata Moms sebentar dan tenangkan diri. Atur mood dan pikirkan hal-hal yang positif.

Kedua, tanamkan pada otak bahwa Moms memiliki anak-anak yang menyenangkan, hanya terkadang sedikit nakal. Ajari disiplin pada anak dengan kasih sayang dan cara yang positif. Beri anak aturan yang jelas yang harus dia patuhi. Misalnya tidak boleh menonton televisi saat jam belajar. Jika anak telah terbiasa maka dia akan dengan mudah mematuhi peraturan tersebut.

Baca Juga:  Peran Ibu Cerdik dalam Edukasi Seks Anak Sejak Dini

Ketiga, jadilah contoh yang baik bagi anak. Nasehati anak dengan bahasa yang halus dan tutur kata yang lembut. Ajari anak untuk dapat mengekspresikan perasaannya dengan baik kepada orangtua maupun temannya.

Keempat, selalu berikan pujian jika anak melakukan hal yang baik. Kata yang bisa Moms ucapkan kepada anak untuk memotivasinya adalah: “Kamu pintar sekali, Kamu hebat.”. Dan beri hadiah kepada anak atas keberhasilannya.

Kelima, perkuat hubungan Moms dengan anak. Jadilah pribadi yang dekat dan akrab dengan anak. Tidak ada orang tua yang sempurna. Tetaplah tenang jika anak sedang nakal atau rewel. Ajaklah anak bicara baik-baik dan penuh kelembutan.

Terakhir, tanamkan dalam diri bahwa Moms mengajari anak disiplin untuk membangun karakter yang baik, bukan untuk membuat anak menangis dan bersedih. Ajarkan disiplin pada anak tanpa memukul. Peluk atau elus lembut kepala anak sambil menasehati.

Moms tentu tak mau hal itu terjadi pada buah hati, kan? Terlebih anak suka melihat dan mencontoh perilaku orangtua. Apa yang terjadi jika Moms masih bersikap begitu? Moms yang cerdas dan bijak pasti memilih cara kelembutan disamping memukul dan berteriak. Apa yang kita tanam itu pula yang akan kita tuai. Ajarkan kelembutan pada anak, maka anak juga akan bersikap lembut pada siapapun, karena sikap anak adalah cerminan dari orangtuanya.

Moms juga harus waspada dengan gangguan-gangguan, karena akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak ke depannya. Jika memang tingkah “nakal” si buah hati tak kunjung hilang hingga usianya memasuki 4 tahun, maka Moms dianjurkan untuk berkonsultasi pada psikolog atau dokter anak. Moms bisa berdiskusi bagaimana cara yang tepat menanganinya. Mulai contohkan hal-hal yang baik ya, dan tetap semangat Moms!

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *