Nycta Gina dan Rizky Kinos, Bangga Memiliki Anak Spesial

Nycta Gina dan Rizky Kinos, Bangga Memiliki Anak Spesial

Farenting.com – Rizna Nyctagina atau yang lebih dikenal dengan nama Nycta Gina memiliki sepasang anak bersama Rizky Kinos. Anak sulungnya bernama Panutan Adhya Semesta Trinycta atau Uta, sedangkan si bundy bernama Lembar Putih Trinycta atau Uti.

Pada kanal youtube KinosGina, mereka melakukan tes biometrikal untuk kedua buah hatinya melalui fingerprint analysis. Anak sulung Kinos dan Gina diketahui tergolong anak rivers. Psikolog Efni Indriani, M.Psi menjelaskan hasil pemindaian sidik jari menunjukkan karakteristik sidik jari terbalik. Diketahui, anak dengan karateristik seperti ini memiliki kepribadian yang identik dengan ilmu pengetahuan atau sains.

Anak dengan kepribadian ini bisa disebut limited edition, karena tidak semua anak mendapatkan anugerah seperti ini. Di Indonesia, hanya sekitar 30% anak dengan kepribadian seperti Uta. Hasil tes lainnya juga menunjukkan, jika Uta memiliki sifat eksperimental, pelopor, pemimpin, bebas, pekerja keras, dan individualis.

Sebelumnya Gina dan Kinos sempat kebingugan menghadapi tingkah Uta. Berbeda, dengan anak bungsunya yang sikapnya sama layaknya anak-anak pada umumnya. Uta enggan menjawab pertanyaan, hingga sulit ditebak mengenai apa kesukaannya. Maka dari itu Gina terdorong untuk melakukan tes biometrikal ini untuk kedua anaknya. Setelah sebelumnya ia berkonsultasi dengan psikolog.

Melalui instagram pribadinya, Gina juga sempat membagikan cerita tentang Uta yang sempat tak bisa menyusu. Ternyata, Uta mengalami tounge tie dan upper lip tie. Uta melakukan operasi pemotongan tounge tie pada saat umur kurang lebih 2 minggu, dikarenakan saat itu ia sama sekali tidak bisa menyusu. Dilansir dari Praborini Lactation Team, tongue tie atau sering kita dengar dengan istilah tali lidah pendek, sebenarnya bukanlah karena ukuran lidah yang benar-benar pendek, melainkan suatu keadaan yang menggambarkan gangguan frenulum (jaringan ikat yang menghubungkan dasar lidah dengan ujung lidah bagian bawah/tali lidah). 

Pengaruh tongue tie terhadap menyusui sudah menjadi perdebatan sejak lama. Bayi dengan tongue tie tidak dapat menjulurkan lidahnya melewati batas gusi rahang bawah untuk membentuk ruangan vakum yang dibutuhkan saat menyusu, dan harus menggunakan rahang bawahnya untuk mempertahankan payudara tetap dalam mulutnya. Hal ini menyebabkan bayi dengan tongue tie tidak dapat melekat pada payudara dengan baik sehingga ibu akan
cenderung untuk berhenti menyusui lebih awal.

Selain kesulitan menyusu, tongue tie dapat menyebabkan gangguan makan, gangguan perkembangan bicara, dan kebersihan mulut yang buruk. Insiden tongue tie dalam populasi secara pasti belum diketahui. Beberapa penelitian melaporkan angka yang berbeda, berkisar antara 1-10%, lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki dibanding perempuan (3:1).

Sedangkan Lip tie adalah tali atau frenulum pada bagian atas bibir yang menempel pada rahang atas. Frenulum ini tidak memiliki otot dan hanya berupa membran saja. Bila frenulum ini menempel pada bagian tulang atau gusi atas maka bisa menyebabkan adanya gerakan yang terbatas untuk bibir dower saat menyusu.

Baca Juga:  Kisah Aurora Zalfa Remialdy, Lahir dengan Ubun-Ubun Tertutup

Posisi bibir yang dower dibutuhkan dalam proses menyusu agar mulut bayi dapat membuat vakum atau tekanan negatif tinggi sehingga bayi dapat menghisap dengan baik dan transfer asi bisa optimal. Bibir yang dower juga merangsang adanya rantai oksitosin yang menyebabkan keluarnya asi dari payudara ibu optimal. Bibir bayi yang tidak dower pada saat menyusu ke payudara dapat menimbulkan keluhan menyusui, seperti nyeri, dan puting lecet.

“MashaAllah anak ibun udh gede… perasaan kaya baru kemarin ngelahirin uta.. masih inget bgt anak ini lahir ga bs nyusu.. tnyata ada tongue tie dan upper lip tie trs setiap ke dktr di blg krg berat badan.. sampe hampir setiap dktr anak yg direkomen org aku dtgin bwt ngejar berat badan dan perkembangannya uta,”¬†tulis Gina melalui instagramnya.

Masalah seperti ini tidak selalu dapat dideteksi saat menyusui, bahkan disebagian kasus ada yang baru menyadari ketika anak mulai memasuki usia sekolah. Nah, Moms mulai kenali gejalanya sejak awal. Apabila Moms merasa ada yang berbeda dari si buah hati, segera periksakan ke dokter ya.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *