Menyulap Kardus Bekas Jadi Mainan untuk Anak Cerdas

Menyulap Kardus Bekas Jadi Mainan untuk Anak Cerdas

infografis mainan kardus

Farenting.com – Membuat mainan untuk anak memang gampang-gampang susah. Tak sedikit orangtua yang mencoba, namun akhirnya menyerah. Memang diperlukan kreativitas dan usaha maksimal agar mainan yang dibuat menarik bagi anak. Jangan sampai mainan yang susah payah dibuat tidak dilirik sama sekali.

Di rumah, Fams pasti punya banyak kardus bekas tak terpakai, bukan? Fams bisa menyulapnya menjadi berbagai macam mainan unik dan sederhana. Tidak hanya menghibur, tetapi juga membantu perkembangan sensorik si buah hati. Ada banyak jenis mainan yang bisa dibuat dari kardus. Dikutip dari artikel 99.co yang berjudul, 10 Ide Membuat Mainan Dari Kardus Untuk Anak. Mudah & Cute Banget.

Dalam artikel tersebut, terdapat beberapa jenis mainan dari kardus yang bisa menghibur sekaligus memanjakan anak. Namun, Fams juga harus tahu dan bisa memilih mana yang sesuai dengan karakter mereka. Ada baiknya orangtua memilih mainan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga bisa mendidik dan menstimulasi sensorik anak, seperti permainan What’s in The Box Challenge.

 Pentingnya Stimulasi Sensorik Sejak Dini

Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Mereka memiliki tanggung jawab penuh terhadap perkembangan anak sebelum ia sekolah secara formal. Oleh karena itu, penting sekali bagi orangtua untuk menyiapkan bekal pengetahuan agar anak menjadi handal dan bermoral. Dilansir dari artikel Kemenkes dan Indonesian Pediatric Society, yang mengatakan bahwa tahun-tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat penting kaitannya dengan tumbuh kembang pada otak anak.

Tahun-tahun awal kehidupan ini sering juga disebut Masa Emas (Golden Period) karena perkembangan sel otak pada anak bisa mencapai miliaran, bergantung pada stimulus yang diberikan. Semakin bervariasi rangsangan yang diterima anak, maka semakin kompleks pula hubungan antarsel dalam otaknya. Hal inilah yang mempengaruhi variasi kecerdasan (multiple intelligences). Di sisi lain, fase ini juga disebut Masa Kritis (Critical Periode) karena otak anak dapat terpengaruh/ menerima dengan cepat setiap informasi yang diberikan, baik positif maupun negatif.

Maka dari itu, penting bagi orangtua untuk memperhatikan kualitas lingkungan anak. Meskipun fase ini terbilang singkat (hanya terjadi di usia 0-3 tahun), tetapi efek yang diberikan bisa saja cukup kuat. Anak di fase ini sangat memerlukan stimulasi rutin dan terus menerus pada panca indranya. Baik indra pengelihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, maupun pengecapan.

Menstimulasi Otak dengan Metode Belajar Sambil Bermain Montessori

Apakah Fams pernah mendengar metode pembelajaran Montessori? Montessori adalah suatu metode pembelajaran yang membuat anak mengaktifkan satu, dua, atau bahkan semua indranya sekaligus (sensory play). Istilah dari metode ini diambil dari nama asli penemunya, Dr. Maria Montessori. Menurutnya, anak-anak adalah sensorial explorer yang secara naluariah akan belajar mengenai lingkungan sekitar melalui panca indranya.

“Ide pembelajaran Montessori sangat cocok untuk anak-anak belajar menggunakan tangannya dalam beraktivitas. Tahun pra-sekolah adalah waktu dimana perkembangan otak anak masih bagus dan orangtua menjadi teman dalam proses belajar mereka. Peran serta orangtua harus bijaksana dalam memutuskan Pendidikan yang akan diterima anak.” – Dr. Maria Montessori

Baca Juga:  Kemendikbud Gelar Acara Kemah Virtual untuk Anak dan Keluarga Indonesia

Stimulasi pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara—bergantung pada usia dan perkembangannya. Anak yang berada di fase awal kehidupan (usia 0-3 tahun) hendaknya dirangsang pada setiap kesempatan. Misalnya Ketika memandikan, menyusui, mengganti popok, menggendong, atau saat anak mulai latihan berjalan. Stimulus di fase awal tidak boleh prematur dan terlalu membebankan anak.

Untuk anak usia di atas tiga tahun, stimulus yang diberikan bisa semakin beragam dan kompleks. Hal ini karena anak memiliki hasrat untuk belajar dan berkembang sendiri. Mereka akan lebih suka permainan yang membuatnya bereaksi aktif dan bebas berkreasi. Bukan sekadar hiburan yang sifatnya imajinatif dan hanya memanjakan.

Oleh karena itu, orangtua bertanggung jawab untuk memfasilitasi kebutuhan anak, baik berupa material maupun emosional. Kepekaan yang dimunculkan anak setelah diberi stimulus ini juga dapat menjadi alat untuk mengobservasi potensi dalam diri anak. Permainan What’s in box challenge sendiri berfungsi untuk mengembangkan kecerdasan visual-spasial, selain itu challenge ini akan melatih ingatan jangka panjang (long-term memory) anak tentang suatu benda.

 Cara Membuat Permainan “What’s In Box Challenge” Sederhana dengan Kardus

Alat dan Bahan:

  • Kardus Bekas
  • Kaus Oblong
  • Gunting/ Silet
  • Benda Spasial/ Mainan

Langkah Membuat

  • Lubangi kedua sisi kardus seukuran lengan tangan
  • Masukkan kardus ke dalam kaos oblong
  • Masukkan Mainan/ Barang ke dalam kardus
  • Enjoy the challenge!
 Lebih Jelasnya, simak video dari TheDadLab berikut:

Dikutip dari jurnal berjudul, Model Pembelajaran Montessori Anak Usia Dini, metode Montessori terbagi dalam tiga tahap pembelajaran. Tahap pertama, anak diperkenalkan dengan suatu benda, kemudian orangtua memberi tahu nama benda tersebut. Pada tahap kedua, anak harus sudah bisa membandingkan benda satu dengan lainnya. Kemudian di tahap ketiga anak sudah bisa membedakan benda-benda yang serupa, serta memahami konsep-konsep baru dari materi yang diberikan.

Permainan What’s in The Box Challenge bisa diaplikasikan tahap demi tahap. Aktivitas pengenalan nama benda, membandingkan benda satu dengan yang lain, serta membedakan tekstur benda akan mengasah kemampuan otaknya. Anak akan menjadi lebih kritis dan analitis dalam menghadapi setiap tantangan ke depannya.

Bagikan yuk!

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *