Mengenal Tipe Parenting Style, Manakah Yang Anda Terapkan?

Mengenal Tipe Parenting Style, Manakah Yang Anda Terapkan?

parenting style

Farenting.com – Ada berbagai macam cara yang berbeda saat Fams mengasuh si kecil. Mengasuh anak bukan hanya merawat, memberi makan, atau menyediakan tempat tinggal yang layak atau kebutuhan fisik saja.  Pola asuh yang berarti perilaku yang diterapkan orangtua pada anak di masa perkembangannya. Penerapannya berupa pola interkasi, hukuman, atau memberikan reward kepada anak yang bertujuan memotivasi anak.

Pola asuh yang baik akan menunjang pembentukan karakter anak secara psikologis dan sosial serta perkembangan mental saat dewasa nanti. Orangtua memegang peran penting dalam pembentukan karakter si kecil. Bagaimana karakter anak terbentuk, ialah hasil dari pola asuh orangtua sejak anak usia dini. Anak akan banyak belajar dan mencontoh apa yang di lakukan orangtua nya dirumah.

Sebagian orangtua ada yang memberlakukan hukuman pada anak yang bertujuan untuk mendisiplinkan, ada juga yang tidak memberikan hukuman sama sekali. Contoh itu tentu akan berbeda pembentukan karakternya kelak. Mengambil pepatah “buah jatuh tak  jauh dari pohon nya“, sifat dan karakter anak bisa saja mengikuti orangtuanya. Anak yang pendiam, mungkin saja ayah atau ibunya mempunyai sifat dan karakter pendiam. Orangtua yang ekspresif, sangat memungkinkan anaknya memiliki sifat dan karakter yang serupa. Namun, sifat dan karakter anak dapat dibentuk sejak dini dengan menerapkan pola asuh yang baik dan benar.

Pola asuh yang diterapkan orangtua pada si kecil, seringkali mengacu pada pola asuh yang diterima saat mereka kanak-kanak. Bila pola asuh yang diterima orangtua dirasa nyaman, akan ia terapkan kepada anaknya. Begitu sebaliknya, jika orangtua merasa tidak nyaman ia akan menggantinya dengan pola asuh yang lain. Sebelum menentukan pola asuh mana yang ingin Fams terapkan, pastikan antara ayah dan ibu membuat kesepatan agar terjalinnya kekompakan dalam mengasuh anak. Jangan sampai antara ayah dan ibu bertentangan dalam mengasuh anak. Kejadian seperti itu akan menimbulkan anak kebingungan, ayah atau ibu yang harus ia ikuti.

Dikutip dari parenting.orami berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologis ternama Diana Baumrind, Marcoby dan Martin mengatakan dampak dari pola asuh pada anak cukup besar. Mulai dari kualitas kesehatan hingga pembentukan pola pikir dan kepribadian dalam jangka panjang.  Dalam dunia psikologis, umumnya ada 4 tipe orangtua melakukan pola asuh pada anak. Setiap orangtua biasanya menerapkan salah satu dari 4 tipe pola asuh tersebut.

Dikutip dari Jurnal Pola Asuh Orangtua Dalam Membentuk Karakter Anak. Fams bisa mencermati 4 tipe pola asuh dibawah ini, kira-kira Fams termasuk yang mana ya?

Authoritatian / Pola Asuh Otoriter

Pola asuh ini ciri utamanya, cenderung orangtua yang mendominasi dan memegang kontrol lebih besar pada anak. Begitu banyak aturan dan batasan yang ditetapkan orangtua tanpa adanya alasan yang jelas dan tanpa pertimbangan kebutuhan anak. Sering kali menyebutkan kata “pokoknya” disetiap aturan dan batasan tanpa peduli keinginan anak dan mengharapkan tidak adanya pertanyaan dari anak. Jika anak tidak menaati aturan atau melanggar akan mendapat hukuman. Orangtua memiliki tuntutan dan ekspektasi tinggi terhadap anak. Tidak adanya timbal balik antar anak dan orangtua, karena kurang adanya komunikasi dari hati ke hati antar anak dan orangtua.

Kondisi pola asuh otoriter ini membuat anak menjadi tertekan pada suatu keadaan hingga mengalami depresi dan stres. Anak cenderung merasakan tidak bahagia, cemas, kurang inisiatif, anak menjadi ketergantungan pada orang lain dan mempunyai kepercayaan diri yang rendah hingga menjadi anak yang pembangkang. Pada pola asuh tipe otoriter ini memiliki dampak negatif bagi anak. Anak akan mengalami hambatan untuk mengembangkan potensi yang ia miliki, karena harus terus menerus mengikuti keinginan orangtua meskipun bertentangan dengan yang anak inginkan.

Permisif / Polas Asuh Memanjakan

Tipe pola asuh permisif adalah kebalikan dari otoriter. Ciri utama dari pola asuh permisif yaitu orangtua “serba boleh” dan tidak banyak menuntut pada anak. Orangtua memberikan apa yang anak mau dari kebutuhan hingga keinginannya. Namun, sangat sedikit aturan yang diterapkan menjadikan anak berlaku semaunya. Orangtua cenderung sibuk dengan urusan sendiri menjadikan kurang tau tentang perkembangan anak.

Baca Juga:  Opini: Jerat Jerami Poligami

Dampak dari pola asuh permisif membuat anak mempunyai sifat egois, tidak mempunyai kontrol diri yang baik, tidak punya motivasi, seringkali melawan orangtua dan bergantung pada orang lain. Tidak menutup kemungkinan anak akan menerapkan pola asuh seperti ini kepada anaknya kelak.

Acuh Tak Acuh / Pola Asuh Pengabaian

Pola asuh acuh tak acuh, ciri utamanya orangtua hanya memberikan sedikit dukungan emosional (terkadang tidak sama sekali). Orangtua tetap memberikan kebutuhan anak namun kurang nya perhatian dan kehangatan. Kurang berinteraksi pada anak dan menyediakan quality time serta tidak peduli dengan kehidupan anak karena lebih mementingkan urusannya sendiri. Orangtua menaruh sedikit ekspektasi pada anak tidak banyak menuntut.

Dampak yang dirasakan anak dari pola asuh acuh tak acuh ini, anak akan mengalami kontrol diri yang rendah dan kesulitan untuk mengatasi perasaan frustasinya. Merasa tidak pernah diperhatikan oleh orangtua menjadikan anak abai terhadap perintah. Anak akan sulit untuk mematuhi aturan, karena dirumahnya saja hampir tidak ada aturan yang berlaku. Dalam perkembangannya ia akan sering berhadapan dengan masalah karena sulit untuk mengontrol rasa emosi.

Authoritative / Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang paling ideal untuk diterapkan. Lingkungan rumah yang penuh perhatian, dukungan dan kasih sayang pada anak. Adanya timbal balik antar orangtua dan anak memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapatnya. Begitu pula dengan orangtua yang memberlakukan aturan dengan menyertakan alasan mengapa sesuatu dilarang. Orangtua melibatkan anak untuk mengambil sebuah keputusan, tidak mengikuti kehendaknya. Mereka mau medengar dan memahami perasaan anak. Menerapkan ekspektasi dan standar yang tinggi pada anak, tetapi orangtua harus ada untuk menyiapkan semua kebutuhan anak untuk mencapainya.

Dalam pola asuh ini orangtua menganggap hak dan kewajiban anak sederajat. Memberikan kebebasan berperilaku pada anak seusianya. Orangtua banyak membimbing anak dan memberikan arahan dengan komunikasi yang baik. Anak hasil dari pola asuh demokratis tumbuh menjadi anak yang periang, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, kemampuan kontrol diri yang baik, berjiwa mandiri, menghargai orang lain dan termotivasi dalam belajar. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis umumnya berkembang dengan baik.

Nah, kira-kira Fams sudah paham belum dengan tipe pola asuh anaknya? Jadi tipe yang mana yang menurut Fams paling tepat untuk si kecil? Apapun itu pasti pilihn yang terbaik ya dari orangtua. Semangat terus Fams!

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *