Mendeteksi Anak Down Syndrome Sejak Dini

Mendeteksi Anak Down Syndrome Sejak Dini

Sumber:pexels.com

Farenting.com – Semua orangtua memimpikan anaknya terlahir sehat dan selamat ke dunia. Namun sayangnya, tidak semua anak dapat terlahir normal. Ada pula anak yang terlahir “istimewa”. Istimewa disini dalam artian anak yang terlahir dalam kondisi cacat lahir, sehingga tubuhnya kurang sempurna. Salah satu keadaan cacat lahir seperti ini yaitu down syndrome. Tentu saja merawat anak normal dan istimewa memiliki cara yang berbeda. Lantas bagaimana cara mendeteksi anak down syndrome?

Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya mengadakan webinar yang di selenggarakan via Zoom (29/7). Dengan tema “ Disabilitea : Deteksi Dini Kebutuhan Khusus Anak”, menghadirkan Ari Pratiwi yaitu dosen dan ketua Kelompok Jabatan Fungsional Dosen Komputasi Cerdas (KJFD), Disabilitas Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya dan Oom Komariyah pengurus Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrom (POTADS). Acara ini dipandu oleh Ziadatul Hikmiah selaku dosen psikologi Universitas Brawijaya.

Sumber: Webinar Deteksi Dini Kebutuhan Khusus Anak

Down Syndrome adalah keadaan dimana anak mengalami kelainan kromosom yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan mentalnya. Anak yang mengalami down syndrome dapat dideteksi sejak dalam kandungan pada usia 4 bulan melalui USG. Ada pula yang baru diketahui saat baru terlahir. Salah satu ciri anak down syndrome dapat dilihat dari garis tangannya. Ciri lainnya yang ada pada anak down syndrome yaitu :

  1. Hidung cenderung pesek atau tidak memiliki tulang hidung
  2. Memiliki jarak yang jau antara kedua mata
  3. Memiliki jarak jari kak yang jauh antara ibu jari dan telunjuk
  4. Memiliki jari tangan kelingking yang pendek dan melengkung ke dalam
  5. Garis tangan yang hanya ada 1

 

Perbedaan anak down syndrome dan anak normal terletak pada tumbuh dan kembangnya yang sedikit mengalami keterlambatan. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan beberapa terapi. Tidak semua orangtua dapat langsung menerima keadaan anaknya yang terlahir seperti ini. Terkadang ada juga orangtua yang tidak mau menerima anaknya down syndrome dan menganggap anaknya disleksia. Namun peran keluarga sangat penting untuk menjadi dukungan anak dapat tumbuh dan berkembang.  “Secanggih apapun teknologi, tapi keluarga tidak mendukung, tidak membantu jadinya. Keluarga adalah garda terdepan untuk menstimulasi anak,” ungkap Ari Pratiwi.

Deteksi dini yang dapat dilakukan selanjutnya adalah dengan cara stimulasi contohnya saat orangtua mengajak interaksi. Dapat berupa tersenyum atau mengajak ngobrol apakah anak merespon atau tidak. Moms juga dapat mendeteksi di usianya saat itu yang harusnya sudah bisa berjalan, tetapi ternyata belum ada perkembangan. Orangtua dapat melanjutkan pemeriksaan penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan. Deteksi dini untuk lebih akurat dapat mendatangi puskesmas, posyandu atau dokter.

Langkah selanjutnya orangtua dapat mengintervensi pertumbuhan dan perkembangan anak dengan melakukan fisioterapi. Fisioterapi yang dilakukan 2 kali dalam seminggu namun diulangi setiap hari di rumah. “Diulangi setiap hari di rumah itu sangat penting dan sangat membantu kemajuan pertumbuhan dan perkembangan anak,” ujar Ari Pratiwi.

Baca Juga:  Parenting dalam Memandu Anak Belajar di Rumah

Oom Komariyah salah satu pemateri yang juga berbagi kisah dan pengalamannya menjadi orangtua yang memiliki anak down syndrome. Sama seperti orangtua lainnya saat mengetahui anaknya mengalami down syndrome, ada rasa tidak terima dan malu seakan dunia runtuh. Sejak di dalam kandungan pun Oom telah menaruh curiga bahwa anaknya akan terlahir berbeda, namun ia menjauhkan pemikiran itu.

Tiba waktunya sang anak lahir, disitulah baru diketahui bahwa anaknya benar-benar mengalami down syndrome. Bukan patah semangat, Oom mengusahakan anaknya dapat tumbuh berkembang seperti anak normal dengan mengikuti terapi. Hasilnya pun di saat usia 15 bulan anak nya sudah bisa berjalan.  Oom sangat bersyukur memiliki anak istimewa karena memberikan banyak keberkahan. Kehadiran anak istimewanya, Oom dapat menjadi pengurus POTADS salah satu yayasan yang memberikan informasi dan konsultasi terlengkap mengenai down syndrome di Indonesia yang telah ada di 10 kota (Jakarta, Bandung, Jawa Tengah, Surabaya, Kalimantan dan Sumatera).

Fams jangan pernah merasa minder atau malu ya memiliki anak istimewa. Setiap anak yang hadir adalah berkah yang dititipkan Tuhan untuk keluarga. Spread all the love, radiate love, and be love.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *