Bukan Barang Elektronik, Ini Mainan untuk Asah Motorik Anak

Bukan Barang Elektronik, Ini Mainan untuk Asah Motorik Anak​

Farenting.com – Perkembangan teknologi yang semakin pesat membawa dampak signifikan terhadap pola asuh dan cara mendidik anak. Tidak terkecuali, dalam hal memilih mainan yang tepat bagi anak. Banyak orang tua yang lebih memilih cara instan dan (dianggap) all in one, cukup dengan memberikan gadget.

American Academy of Pediatrics (AAP) pada Desember 2018 lalu, mengeluarkan press release yang mengungkapkan mainan fisik lebih baik daripada elektronik. Jenis mainan yang ideal dan bagus untuk mengasah motorik anak salah satunya puzzle. Puzzle adalah permainan yang mampu melatih motorik anak karena membuatnya lebih aktif bergerak dan menstimulasi pikiran imajinatif.

Permainan puzzle ini terdiri dari beberapa jenis. Mulai dari bongkar pasang mainan, menyusun gambar dan kata-kata, puzzle berpola, hingga matematika. Selain itu, terdapat beberapa manfaat lain yang bisa didapatkan dari bermain puzzle bagi motorik anak, seperti dikutip dari Anggun Paud dan  tirto.id dan yaitu:

1. Melatih Kesabaran dan Ketekunan Anak

Ketika anak dihadapkan pada potongan-potongan gambar yang teracak, mereka akan berusaha menemukan solusi. Anak akan terus mencoba memasang setiap potongan gambar ke tempat yang sesuai. Dari sinilah orangtua bisa melihat keberanian anaknya dalam mencoba hal baru.

2. Meningkatkan Kecerdasan dan Kognitif Anak

Dalam permainan puzzle, anak juga dituntut untuk mengenal warna, ukuran, dan simbol-simbol baru. Jadi, seusai bermain, anak mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal baru. Misalnya, nama-nama hewan, bunga, dan lain sebagainya yang disebutkan dalam permainan tersebut.

3. Membantu Meningkatkan Koordinasi Anggota Tubuh

Dengan bermain puzzle, koordinasi antara otak, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya akan dilatih. Hal ini tentu akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Selain menjadi lebih pintar, ia juga akan menjadi cepat tanggap dan gesit dalam bertindak.

4. Mengasah Keterampilan Sosial Anak

Tidak seperti bermain gadget yang cenderung membuat anak hanya fokus pada layarnya. Permainan puzzle membuat anak bisa berinteraksi dengan lingkungan. Ketika anak kesusahan bisa jadi ia akan meminta bantuan orang tuanya untuk bekerja sama menyelesaikan puzzle.

5. Membiasakan Anak Dalam Tekanan dan Memecahkan Masalah

Kepingan puzzle yang berantakan menjadi tantangan tersendiri bagi anak. Mereka akan berusaha dan terus mencoba hingga akhirnya berhasil membentuk pola yang diinginkan. Dalam hal ini, kepandaian dan kemampuan anak akan terlihat dari seberapa cepat ia menyelesaikan puzzle. Jadi, ketika ia dihadapkan pada masalah yang nyata, ia tidak akan banyak mengeluh, tetapi justru berusaha menemukan solusi.

6. Permainan Puzzle Memperkuat Daya Ingat Anak

Daya ingat anak akan semakin tajam ketika terus diberi stimulus dan training. Dalam permainan puzzle, diperlukan konsentrasi dan daya ingat yang baik. Misalnya, seorang anak berusia 4 tahun mulai diajarkan nama-nama hewan, “Jerapah yang lehernya panjang”, “Gajah memiliki belalai panjang” dsb. Ketika orang tua memberitahu sekaligus menunjukkan mana hewan-hewan tersebut, maka informasi itu akan tersimpan. Bahkan informasi tersebut bisa menjadi ingatan jangka panjang si anak.

Baca Juga:  Mahasiswa UMM Praktikan Baby Massage di Desa Setanggor Selatan

Dari beberapa manfaat yang sudah dipaparkan di atas, orang tua tetap harus ikut andil. Memberikan perhatian dan pengawasan penuh bagi Buah Hatinya.Bila Sang Buah Hati merasa kesulitan, orang tua bisa memotivasi, mengarahkan atau sekadar memberi bantuan untuk anak.

Begitu anak berhasil menyelesaikan puzzle, orang tua wajib memberi apresiasi, misalnya dengan pujian “Anak Mama pintar,”.atau “Mama bangga sama kamu.” Dengan demikian, anak akan merasa senang dan siap untuk tantangan puzzle lainnya yang lebih sulit.

Dari sini, mungkin muncul pertanyaan Fams, “Usia berapa ya anak dikenalkan dengan permainan Puzzle?”
Berikut ini jenis puzzle yang cocok untuk anak berdasarkan rentang usianya, seperti dilansir dari id.theasianparent.com :

a.Usia 1-2 tahun

Pada usia ini, anak masih sangat kecil dan tentunya belum memiliki kemampuan untuk menyusun puzzle. Namun, anak-anak umumnya sudah bisa menaruh dan mengeluarkannya dari kotak penyimpanan.

b. Usia 2-3 tahun

Pada usia ini, anak sudah mulai bisa menyusun puzzle sederhana. Kemampuan dan kekuatan organ tubuhnya sudah semakin meningkat meskipun masih membutuhkan arahan dan pengawasan.

c. Usia 3-6 tahun

Pada usia ini, anak sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik. Anak mulai mencoba puzzle dengan tantangan yang lebih sulit dan kompleks. Pada rentang usia ini mereka bahkan ingin menunjukkan kemandirian kalau mereka bisa menyelesaikan puzzle-nya.
Gimana Fams, tertarik memilih permainan puzzle untuk perkembangan anak?

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *