Kontroversi Pola Asuh Helicopter dan Snowplow Parenting

Kontroversi Pola Asuh Helicopter dan Snowplow Parenting

Sumber : Freepik

Farenting.com – Pernahkah Fams merasa khawatir dengan anak? Kekhawatiran seperti risau anak tak bisa mengerjakan tugas sekolah, kesulitan menjawab soal ujian, bahkan khawatir bagaimana aktivitas anak di sekolah. Apakah biasanya Fams memilih untuk mengerjakan tugas anak lantaran ingin si kecil dapat nilai yang bagus dan selalu ingin menyelesaikan masalah anak secara sepihak? Jika jawabannya hampir iya semua, berarti Fams termasuk dalam golongan kelompok orangtua penganut Helicopter Parenting dan Snowplow Parenting.

Apa sih sebenarnya Helicopter Parenting dan Snowplow Parenting ini? Keduanya adalah jenis tren parenting yang menjamur di masyarakat saat ini. Istilah helicopter parenting pertama kali digunakan dalam buku karangan Dr. Haim Ginott pada tahun 1969 yang mengatakan bahwa orangtua mereka akan melayang di atas mereka seperti layaknya helikopter. Tren pola asuh ini mengacu pada gaya orang tua yang terlalu fokus secara berlebihan pada anak-anak mereka. Orangtua akan berperan besar untuk terlibat di segala urusan anak. Akibat dari tindakan ini, orangtua akan overcontrolling, overperfecting, dan juga overprotecting.

Serupa tapi tak sama, Snowplow Parenting adalah lanjutan dari pola asuh para orangtua penganut helicopter parenting. Para Fams penganut gaya ini beranggapan mereka sedang membuka jalan bagi anak-anak mereka untuk sukses. Seperti layaknya mesin pembajak salju yang membersihkan salju dari jalan, snowplow Fams selalu menyingkirkan semua rintangan yang menghalangi anaknya. Orangtua tipe ini tidak mau anaknya mengalami ketidaknyamanan atau masalah apapun, sehingga mereka memilih turun tangan dan memperbaikinya. Istilah ini muncul akibat terkuaknya kasus skandal penerimaan murid baru di perguruan tinggi elit. Kasus ini dimuat pertama kali oleh The New York Times, dimana para orangtua rela membayar joki untuk tes masuk sebesar 15 ribu dolar AS atau sekitar Rp 220.000.000 agar anaknya lulus. Tak main-main 50 orangtua yang menjadi pelakunya adalah dari kalangan eksekutif perusahaan top, selebritas, dan CEO.

Mengapa orangtua melakukan Helicopter Parenting dan Snowplow Parenting?

Setiap perbuatan tentu ada tindak tanduknya, ada beberapa alasan mengapa Fams bisa menerapkan 2 pola asuh kontroversi ini. Helicopter parents dapat berkembang karena beberapa alasan, Melansir dari Parents.com berikut empat pemicu umum yang menjadi penyebab asal muasal pola asuh ini :

Pertama, Takut akan konsekuensi yang mengerikan. Fams mungkin takut dengan anaknya yang akan mendapat nilai rendah, tak bisa berolahraga, atau mengalami kegagalan pada saat wawancara kerja. Terutama jika mereka bisa berbuat lebih banyak untuk membantu anak.

Kedua, Rasa cemas berlebih. Kekhawatiran tentang keadaan ekonomi, pasar kerja, dan dunia secara umum dapat mendorong helicopter parents untuk mengambil kendali lebih besar atas kehidupan anak dengan berdalih sebagai upaya melindungi. Kekhawatiran ini mendorong Fams untuk mengambil kendali dengan keyakinan bahwa mereka bisa menjaga anak mereka agar tak terluka dan kecewa.

Ketiga, Adanya tekanan dari orang lain. Saat Moms dan Dads melihat orangtua lain yang terlalu terlibat pada anaknya, hal itu dapat memicu respon serupa. Fams akan dengan mudah merasakan bahwa jika tidak ikut terlibat dalam kehidupan anak, itu berarti sebagai orang tua yang buruk. Dalam hal ini rasa bersalah menjadi komponen besar penyebab timbulnya perasaan ini.

Lain halnya dengan penyebab dari Snowplow Parenting. Seperti yang dilansir dari  Parents.com para ahli berpendapat bahwa penyebab utama Fams penganut pola asuh ini terindikasi oleh pengaruh media. Dalam hal ini media mempengaruhi gerakan orangtua yang mengintervensi anak dengan berbagai cara. Para snowplow Fams terpengaruh media sosial yang 24 jam nonstop mengingatkan tentang segala hal buruk yang terjadi di dunia. Hal ini menjadikan mereka mengalami gangguan kecemasan berlebih.

Dampak akibat pola asuh Helicopter Parenting dan Snowplow Parenting

Menurut jurnal ilmiah karya Ria Khairunnisa dan Dewi Trihandayani dari Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA, banyak ditemukan dampak negatif dari helicopter parenting pada perkembangan anak. Para anak dari pelaku pola asuh ini cenderung lebih tinggi dalam neurotisme dan ketergantungan interpersonal, efikasi yang rendah, serta pola komunikasi yang konformitas dalam keluarga.

Baca Juga:  Pentingnya Sosok Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak

Kedua pola asuh ini ternyata menimbulkan dampak buruk bagi anak. Maka dari itu Fams harus tau dan menghindari pola asuh ini ya. Berikut Farenting telah merangkumnya :

Ada beberapa dampak dari pola asuh Helicopter Parenting dan Snowplow Parenting seperti :

  • Mengurangi rasa percaya diri anak

Hal ini terjadi karena ia tak pernah diberi kesempatan dan belajar untuk menentukan pilihannya sendiri. Anak akan menjadi ketergantungan pada orangtua. Dampaknya, anak akan kurang percaya diri dalam memilih dan memutuskan keputusan. Ia juga akan selalu merasa tidak percaya diri dalam setiap hal

  • Membuat anak kurang terampil

Anak yang selalu dimanja akan tumbuh menjadi anak yang tidak terampil dalam segala hal dan manja. Contohnya seperti anak yang selalu diikatkan tali sepatunya, dibereskan mainannya, makan disuapi, atau dilarang keluar bermain bersama teman dan lain-lain. Pada dasarnya kegiatan tersebut bisa dikerjakan sendiri, namun karena selalu dimanja ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak bisa apa-apa.

  • Menimbulkan depresi

Fams penganut helicopter parenting memiliki rasa ego yang tinggi akan membuat anak menjadi depresi. Karena didominasi oleh keinginan orangtua, anak akan merasa tak berdaya dan tak punya kuasa atas hidupnya dan menentukan pilihannya sendiri. Tak ayal banyak anak yang depresi dan memilih menjadi pembangkang akibat lelah.

  • Menjadi pembangkang

Helicopter Parents yang overprotective dapat membuat anak menjadi pembangkang. Hal ini karena anak muak terkekang dan selalu dilarang. Bukannya menjadikan anak menurut, justru sebaliknya.

  • Sulit mengatasi frustasi

Pola asuh penganut snowplow parenting ini menyebabkan anak kerap merasa frustasi. Mereka tak terbiasa dengan kegagalan dan ketidaknyamanan. Rasa frustasi ini akan terjadi terus menerus, sebab sedari kecil mereka selalu dilindungi orangtua.

  • Sulit memecahkan masalah

Kemampuan problem solving adalah kemampuan dasar yang wajib dimiliki setiap orang saat ini. Lantas bagaimana dengan para anak pelaku snowplow parenting yang sedari kecil masalahnya selalu dibereskan orangtuanya? Hal ini menyebabkan anak kesulitan memecahkan masalahnya sendiri. Akhirnya mereka tak bisa mandiri dan akan selalu ketergantungan dengan orang lain.

  • Mengalami kecemasan yang tinggi.

Tak hanya orang tuanya yang cemas, anak pelaku snowplow parenting juga akan mengalami hal yang sama. Sebab jenis pola asuh ini dapat meningkatkan kecemasan tinggi pada anak saat ia menghadapi situasi yang tak nyaman atau tidak bisa ia selesaikan sendiri.

Nah, itu dia Fams tren pola asuh yang mungkin secara tak sadar pernah lakukan untuk anak tercinta. Maksud hati untuk melindungi anak malah berdampak buruk di kemudian hari. Jangan sampai terjebak di pola asuh ini ya, Fams!

Bagikan yuk!

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *