Kisah Keluarga Amanda Farliany, Merajut Cinta dalam Keterbatasan

Kisah Keluarga Amanda Farliany, Merajut Cinta dalam Keterbatasan

Farenting.com – Cinta dan kasih sayang dalam keluarga itu tidak terbatas walau dengan kondisi fisik terbatas. Menjadi keluarga tuna rungu tak menjadi halangan untuk saling bersatu. Mengulik kisah inspirasi keluarga pasangan Tuli Amanda Farliany Fashal dan Tonanda Putra, membesarkan anak dalam keterbatasan.

Sosok Amanda Farliany sudah tak asing lagi di telinga, namanya dikenal banyak orang, karena kisahnya yang inspiratif dan berprestasi. Ibu cantik berambut panjang ini dulunya pernah menjadi seorang model profesional lho, Fams! Pada tahun 1999 ia berhasil menjadi juara di majalah Aneka Yess! menyingkirkan belasan ribu orang pada masanya. Tak hanya itu, Amanda juga kerap menjadi model dalam video klip dan merambah dunia seni peran dalam sinetron. Semua prestasinya menjawab cibiran dan ejekan semua orang yang memandang rendah cita-citanya yang ingin menjadi model.

Amanda dengan keterbatasannya sudah muncul sedari kecil. Namun, orangtuanya baru sadar penyakit tersebut saat ia berusia enam bulan. Saat itu sang bunda curiga, sebab Amanda kecil tak bereaksi ketika diberi mainan kerincingan dan saat ada suara. Sejak saat itu ia segera dibawa ke dokter untuk diperiksa. Ternyata benar, Amanda didiagnosa menderita tuna rungu atau tuli. Hal itu merupakan gangguan pendengaran yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. Keterbatasan itu tak memutuskan keinginannya untuk menggapai asa.

Amanda saat menjadi model di majalah Aneka Yesssumber: pexels.com

Kini Amanda telah menikah dengan Tonanda Putra rekannya ketika duduk dibangku SMA. Saat ini mereka memiliki tiga putri yang cantik yaitu Alyssa, Fumiko, dan Kenna. Ia  juga sedang menunggu kelahiran putra ke empatnya. Kendati demikian, Amanda dan Tonan adalah sama-sama penyandang Tuli, tetapi buah hati mereka terlahir dengan pendengaran yang normal. Di dalam keluarga, mereka mengajarkan si kecil untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat bisindo. Dengan menggunakan bahasa isyarat inilah mereka saling berkomunikasi di dalam keluarga.

Memiliki keterbatasan dalam pendengaran tak menjadi halangan Amanda dan Tonan mendidik buah hatinya. Dalam kanal youtube pribadinya, Amanda menjelaskan bagaimana caranya dan suami berkomunikasi dengan si kecil. “Kita sebagai orangtua selalu mengajarkan cara berkomunikasi sama anak-anak seperti apa, contohnya kalau anak-anak mau panggil mama atau papa itu pakai tepuk tangan. Mereka sudah tahu kalau mama papanya tidak bisa mendengar”, ucap Amanda.

Jika berbicara ia juga harus fokus dengan gerak bibir anak dan bahasa isyarat tubuh. Karena anak-anaknya sudah bisa menggunakan bahasa isyarat menjadi komunikasi mereka semakin mudah karena telah terbiasa. “Keluarga dan orangtua juga membantu anak-anak ku untuk lancar berbicara seperti mengajak si kecil mengobrol dan bermain. Si kecil juga belajar mendengar dari tontonan film kartun di youtube atau televisi”, tambahnya.

Amanda dan Tonan mengajarkan putrinya memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat

Memiliki kedua orangtua yang tuli sempat membuat Fumiko putri kedua Amanda mendapat perlakuan tak menyenangkan dari teman kelasnya. Ia harus merasakan apa yang dirasakan Amanda sewaktu kecil ketika di bully karena memiliki orang tua yang Tuli. Fumiko dicibir ketika bercerita bahwa ia memiliki ayah dan ibu yang Tuli. Teman-teman kelasnya enggan berteman hanya karena kondisi kedua orangtuanya. Perlakuan tersebut sempat membuat Fumiko bersedih, ia berusaha untuk berani dan percaya diri memiliki ayah dan ibu yang Tuli. Amanda dan Tonan selalu mengingatkan untuk selalu menerima dan berpikir positif, butuh waktu dan proses agar orang untuk mengerti.

Baca Juga:  Orangtua Bercerai Tetap Harus Kompak Demi Anak

Walaupun sudah vakum dalam dunia entertainment karena mengurus ketiga putri cantiknya, Amanda tetap dikenal orang berkat semangat juangnya melawan keterbatasan. Ia kerap membagikan inspirasi lewat media sosial, seperti mengunggah video bagaimana cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat bisindo, hingga cara mengasuh anak dan menjadi motivator. Keterbatasan itu membuatnya tak ingin dikasihani, justru ia membuktikan dengan kondisi Tuli juga bisa melakukan apa saja. Mulai dari mengasuh anak, memasak, bernyanyi, hingga menyetir mobil. Tak ingin dipandang sebelah mata, ia berhasil membuktikan bahwa setiap orang itu setara. Fams bisa mampir ke kanal youtube, instagram, dan tik tok pribadinya ya jika ingin belajar bahasa isyarat dan mengenal dekat keluarga ini.

Fams, keterbatasan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus seperti yang dialami Moms Amanda dan Dads Tonan mengajarkan kepada kita bahwa, setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mencintai dan dicintai. Keterbatasan itu bukan penghalang seseorang untuk bisa menggapai cita-citanya, karena semua orang itu setara. Menurut jurnal penelitian Universitas Padjajaran yang ditulis Gabriela dkk dengan judul Pengasuhan Good Parenting Bagi Anak dengan Disabilitas, anak dengan disabilitas memerlukan penanganan khusus, tetapi tidak semua orangtua yang tulus menerima anak dengan disabilitas dan memberikan kasih sayang. Orangtua terkadang tidak memperdulikan atau kurangnya perhatian atau kasih sayang orangtua kepada anak dengan disabilitas. Belum banyak orangtua yang menerima anak dengan disabilitas dengan hati yang tulus. Anak dengan disabilitas tidak merasakan diterima secara penuh di lingkungan keluarga terutama orangtua. Orangtua menganggap anak dengan disabilitas merupakan “aib” bagi keluarga. Begitu juga dengan stigma negatif bahwa anak dengan disabilitas hanya dapat menunggu bantuan saja dan tidak bisa melakukan aktivitas sendiri. Jika ini terjadi nantinya parents akan mengalami gangguan parenting stress.

Nah, maka dari itu jadi parents yang open minded yuk seperti keluarga Amanda Farliany! Dukung dan rajut cinta kasih untuk melahirkan keluarga yang harmonis dan bahagia.

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *