Jalan-jalan Virtual di Masa Pandemi Global

Jalan-jalan Virtual di Masa Pandemi Global

Sumber: pixabay.com

Farenting.com РTak terasa masa karantina sudah berlangsung selama dua bulan lebih. Masa bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah juga terus diperpanjang dan tentu akan terbentuk pola kehidupan baru dalam keluarga, terutama pada anak. Berdasarkan data Wikipedia (24/05/20), sekitar 1,725 miliar pelajar di seluruh dunia terkena dampak COVID-19. Sekolah dan Universitas ditutup sebagai langkah mencegah penyebaran COVID-19. Tentu perubahan drastis yang terjadi dalam waktu singkat ini membuat anak terkejut dan kebingungan. Terlebih anak-anak juga tidak bertemu dengan teman sebayanya.

Bukan hanya anak, tetapi Fams sebagai orangtua juga merasakan hal yang sama. Tidak ada orang yang benar-benar siap menghadapi pandemi global seperti ini. Semua rencana yang telah disiapkan, serta kegiatan jalan-jalan dan hunting bersama keluarga terpaksa harus ditunda. Namun, tahukah Fams telah ada alternatif lain untuk jalan-jalan di beberapa situs dalam negeri?

Setelah dikeluarkannya¬†Surat Edaran¬†Mendikbud no. 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan Pendidikan di masa darurat Covid-19, banyak arahan pemerintah agar kegiatan selama¬†#dirumahaja tidak membosankan. Misalnya dengan kerjasama Mendikbud dengan Google Art and Culture, ‚ÄúKemendikbud telah bekerjasama dengan Google, dan resmi memasukkan beberapa museum dan situs di Indonesia ke dalam Platform Google Arts & Culture,‚ÄĚ kata Nadiem Makariem dalam rilis Kemendikbud.

Jadi, meskipun museum dan situs-situs Pendidikan telah ditutup, tentu tidak terlalu berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Berkat kerjasama ini, siswa (dari segala usia) bahkan bisa mengakses informasi budaya Indonesia dengan lebih leluasa. Terdapat ragam fitur yang bisa menjadi opsi tergantung preferensi masing-masing. Mulai dari menjelajah berdasarkan kategori, misalnya kategori seniman, peristiwa, tokoh bersejarah, situs dan monument serta koleksi dari berbagai belahan dunia.

Dengan memanfaatkan aplikasi dari Google ini, anak tidak hanya menjadi lebih betah di rumah, tetapi juga mendapat ilmu tentang kesenian dan budaya dari seluruh dunia. Untuk anak usia pra-sekolah, orangtua bisa mendampingi anaknya, membacakan naskah atau cerita yang tersaji dalam Google Art and Cultures. Untuk anak usia sekolah dan sudah bisa membaca, cukup dibimbing tentang cara menggunakan produk Google satu ini. Tentu orangtua juga harus membatasi durasi bermain gadget anak, tergantung usianya.

Situs di Indonesia dalam Google Arts and Cultures

Pengguna Google Arts and Cultures sudah bisa memanfaatkan fitur¬†Art Camera, Video 360¬į, dan¬†Street View¬†pada beberapa situs di Indonesia. Berikut dua di antaranya:

Pertama, Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar se-Asia Tenggara. Dikutip dari website museumnasional.or.id, hingga saat ini koleksinya mencapai 160.000 benda dan diklaim sebagai yang terlengkap se-Indonesia. Koleksi benda di dalamnya berasal dari berbagai daerah Nusantara, bahkan beberapa di antaranya juga berasal dari luar Indonesia. Begitu mendatangi museum ini, pengunjung bisa mendapat pengetahuan baru tentang koleksi prasejarah, arkeologi klasik masa Hindu-Budha, numismatik, heraldik, etnografi, hingga geografi dan sejarah.

Sayangnya, sejak pemerintah menetapkan aturan bekerja, belajar, dan ibadah dari rumah, museum ini juga terpaksa harus ditutup. Puluhan sekolah yang telah mengagendakan kunjungan juga telah membatalkan lantaran mencegah penyebaran penyakit Covid-19.

Baca Juga:  Jaga Kearifan Lokal dengan Kenalkan Permainan Tradisional pasda Anak

‚ÄúPandemi Covid-19 memaksa kita untuk lebih kreatif dan berubah dalam berbagai bidang, pola bekerja, cara belajar, dan cara interaksi sosial. Covid-19 menjadi momentum untuk bekerja dan belajar lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan sumber daya yang ada.‚ÄĚ ‚Äď Humas Museum Nasional Indonesia.

Fitur jelajah 360¬į di beranda Museum Nasional Indonesia

Kedua, Kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah. Siapa yang tidak mengenal Candi Budha terbesar di dunia ini? Borobudur tidak diragukan lagi menjadi warisan budaya dan agama yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Biasanya kompleks Candi menjadi destinasi wisata edukatif bagi anak usia sekolah (study tour). Namun, karena pandemi masih berlangsung, maka situs ini terpaksa ditutup. Berdasarkan informasi dari katadata.co.id, Borobudur akan dibuka pada awal Juni mendatang dengan menerapkan protokol kesehatan.

‚ÄúTaman Wisata Candi saat dibuka nanti telah siap menuju ‘The New Normal’ pariwisata. Saat ini berbagai persiapan telah dilakukan dengan meningkatkan kualitas pelayanan yang bersih, sehat, dan aman,” ungkap Dirut TWC Borobudur, Edy Setijono.

Fitur jelajah 360¬į di Candi Borobudur

Selain dua destinasi di atas, ada juga opsi lain seperti Candi Prambanan, Museum Purbakala Sangiran, ARMA Museum Bali, dan sebagainya yang bisa dieksplorasi sendiri.  Fams hanya perlu membuka website artsandculture.google.com atau install aplikasinya di Apple/Playstore. Dengan memanfaatkan teknologi ini, Fams dan keluarga bisa jalan-jalan virtual sambil eksplorasi kekayaan seni dan budaya nusantara. Manfaatkanlah masa pandemi ini untuk mengembangkan potensi anak dalam berteknologi dan mempelajari hal-hal baru. Selamat mencoba, Fams!

Bagikan yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *