Jaga Kearifan Lokal dengan Kenalkan Permainan Tradisional pasda Anak

Jaga Kearifan Lokal dengan Kenalkan Permainan Tradisional pada Anak

Farenting.com – Beruntunglah anak-anak yang lahir di tahun 90-an karena dapat merasakan keseruan permainan tradisional seperti bermain petak umpet, engklek, egrang, kelereng, lompat tali, dan lain sebagainya. Beda ceritanya dengan mereka yang lahir di tahun 2010 ke atas yang mayoritasnya, sudah enggan pada permainan yang melibatkan fisik dan kebersamaan. Anak-anak di zaman sekarang lebih tertarik pada video game yang dengan gampang diakses dari ponsel mereka masing-masing.

Padahal permainan tradisional memiliki dampak positif terhadap perilaku sosial dan kecerdasan anak di masa mendatang. Selain itu permainan tradisional juga dapat melatih sikap empati, kerja sama, tanggung jawab, dan jiwa kompetitif yang sehat. Terlebih saat ini kita sudah memasuki kondisi kenormalan baru (new normal), sehingga secara berangsur-angsur orang mulai keluar rumah meski dengan protokol kesehatan.

Dalam jurnal berjudul Melatih Keterampilan Sosial Anak Usia Dini Melalui Permainan Tradisional yang ditulis M. Hery Yuli Setiawan, dijelaskan bahwa Pendidikan anak usia dini menitikberatkan pada aspek yang mampu melatih tumbuh kembang anak baik dari segi fisik maupun kecerdasan sosial dan emosionalnya. Bila aktivitas fisik seperti ini dibiasakan, maka akan terbentuk karakter yang mendukung kesuksesannya di masa mendatang. Selain bagus untuk melatih tumbuh kembang si kecil, permainan tradisional biasanya sarat akan pesan moral, baik dari sisi budaya hingga norma dan agama.

Namun, masa pandemi seperti sekarang ini anak-anak masih sangat jarang mendapat kesempatan bermain bersama teman sebayanya. Oleh karena itu, Dads & Moms harus berinisiatif mengajak anak untuk bermain permainan tradisional. Tidak melulu memberikan gawai yang jika berlebihan dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mentalnya. Nah, berikut ini beberapa jenis permainan tradisional yang dapat dimainkan bersama sang buah hati meski #dirumahaja.

Pertama, Bermain Petak Umpet

Sumber: inibaru.id

Fams yang lahir sebelum masa-masa kemajuan teknologi (serba gadget) seperti ini tentu tidak asing lagi dengan petak umpet. Fams bisa mengajak semua anggota keluarga, entah itu ibu, bapak, kakak, adik, bahkan kakek dan nenek. Semakin banyak yang ikut maka akan semakin seru. Selain itu bonding antar anggota keluarga juga akan semakin erat.

Aturan main dalam game ini adalah satu orang sebagai penjaga dan para pemain lainnya bersembunyi. Si penjaga berhitung sampai sepuluh baru kemudian mencari tempat persembunyian yang lain. Bila semua pemain berhasil ditemukan, maka si penjaga dinyatakan menang. Namun, jika si penjaga lengah maka pemain yang bersembunyi dapat keluar dan menepuk si penjaga dan berteriak “Inglo”, “Geleng”, atau kata lain yang sudah disepakati (kata ini berbeda di masing-masing daerah).

Kedua, Permainan Lompat Tali Karet.

Permainan ini adalah salah satu permainan yang cukup digandrungi pada masanya. Karet disambung satu per satu, sehingga membentuk tali panjang dan melar bila ditarik. Dads & Moms bisa bertugas memegang masing-masing ujung tali yang hendak dilompati sang buah hati. Permainan dimulai dari level yang paling rendah, mulai dari tali karet diletakkan dilantai, kemudian naik sejengkal demi sejengkal hingga akhirnya di atas kepala.

Baca Juga:  Berkebun, Aktivitas Sederhana tapi Sarat Makna Bagi Balita

Tentu Fams bisa menyesuaikan tingkat kesulitannya tergantung pada usia dan tinggi badan anak. Sebenarnya permainan ini tidak hanya sebatas melompat. Ada juga rintangan harus melewati tali yang diayunkan, melompat seperti bermain skipping, hingga menari di atas tali. Fams tentu bisa mencoba, berkreasi, dan mencocokkan permainan seperti apa yang cocok. Fams juga dapat memberikan hadiah dan hukuman sewajarnya pasca bermain lompat tali.

Ketiga, Permainan Tradisional Engklek

Engklek merupakan permainan yang biasanya dua orang atau lebih. Dimainkan secara bergantian satu per satu dengan cara melewati petak dalam bentuk kotak, lingkaran, segitiga, atau pola lain yang sudah ditetapkan. Setiap pemain harus memiliki gacu (alat permainan yang dilempar ke petak yang tersedia dalam Engklek) berupa pecahan genting, batu beling, batu serpih, ataupun uang receh.

Permainan ini bisa melatih kedisiplinan, ketangkasan, bersosialisasi dan kesehatan. Dasrun Hidayat dalam jurnalnya, Permainan Tradisional dan Kearifan Lokal mengatakan, “permainan engklek memiliki nilai-nilai yang tersirat dari setiap permainannya. Seperti pemain harus mematuhi peraturan, ini melatih anak sejak dini untuk disiplin dalam segala hal. Seperti melatih fisik dan mental anak, melakukan lompatan-lompatan dengan satu kaki, melatih keseimbangan fisik, dan melatih mental anak ketika dinyatakan kalah.”

Gimana Fams? Tertarik untuk mencoba satu dari tiga permainan di atas? Atau langsung mau mencoba tiga-tiganya sekaligus? Yuk, jaga kearifan lokal dengan menerapkan permainan tradisional pada anak-anak kita agar ia mendapatkan ragam manfaat dalam proses tumbuh kembang menuju pendewasaan. Hitung-hitung nostalgia masa kecil juga ya Fams! Let’s Enjoy and have fun with our kids!

Bagikan yuk!

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *