"Fenomena Permainan Digital pada Anak dalam Keluarga"

Zaman modern ini, gawai tak lagi asing terdengar, bahkan kini telah menjadi kebutuhan pokok setiap manusia. Kemudahan yang diberikan gawai memang menarik tipu daya, hingga penggunanya ketagihan tak bisa lepas tanpanya.

Digital Parenting: Literasi atau Adiksi?

Perkembangan teknologi sudah melesat dengan begitu cepat. Menciptakan ragam disrupsi dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, tak terkecuali terhadap gaya orangtua dalam mendidik anak. Banyak orangtua, terutama generasi milenial yang menerapkan gaya baru, atau lebih dikenal dengan istilah digital parenting.

Digital Parenting adalah suatu pola pengasuhan atau metode mendidik anak di era digital. Orangtua dituntut untuk lebih terampil dalam setiap pengambilan keputusan, dan aturan main yang diterapkan pada anak. Memberikan Batasan, mengenalkan anak pada teknologi, serta aturan lain yang diharapkan dapat mendukung tumbuh kembang anak secara positif

Berdasarkan jurnal berjudul Peran Pola Asuh Orangtua di Era Digital, perkembangan teknologi yang kian pesat menyebabkan nilai-nilai dan cara mendidik anak juga mengalami perubahan besar. Pola asuh yang sebelumnya hanya terdiri dari pola asuh otoriter, permisif, dan demokrasi, kini harus berganti digital literasi (digital parenting). Jika orangtua masa kini tetap menggunakan pola asuh masa kuno, maka pola asuh yang diterapkan tidak akan berhasil. Hal ini seperti diungkapkan Zainul Anwar, Dosen Psikologi UMM, saat diwawancarai Redaksi Farenting (8/6/20).

“Kalau kata Umar bin Khattab, ‘didiklah anakmu itu sesuai dengan zamannya.’ Ya, tentu sangat tidak cocok jika cara mendidik di zaman kolonial diterapkan pada anak zaman milenial,” ungkap Zainul Anwar.

Ia mengatakan orangtua juga harus ikut andil dan selalu mengawasi anak-anaknya. Terlebih di masa pandemic, durasi anak dalam bermain gawai bisa saja semakin lama. “Ya, kita ambil hikmah pandemic Korona ini, orangtua atau guru-guru jadi bisa lebih melek teknologi,” ujarnya.

Selain itu orangtua harus memiliki inisiatif untuk mengikuti seminar-seminar online, pelatihan daring, dan mengikuti sosial media yang berkaitan tentang cara mendidik anak di era digital ini. Namun, perkara mendidik anak memang tidaklah mudah. Banyak variabel lain yang juga berpengaruh, seperti faktor ekonomi, pekerjaan, dan kebiasaan. Meski demikian, tanggung jawab sebagai orangtua harus tetap menjadi yang pertama dan utama.

Intensi Penggunaan Gawai, Mencerdaskan atau Sebaliknya?

Pengaruh yang ditimbulkan gawai berbeda-beda pada tiap anak. Perbedaan pengaruh yang ditimbulkan tidak lepas dari bagaimana cara orangtua mengontrol dan mengawasi anak dalam menggunakannya. Bicara tentang dampak, tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagai permukaan koin, terdapat dampak positif dan negatif yang mungkin muncul pada anak ketika mereka mulai atau sudah terbiasa menggunakan gawai.

Mengutip dari Jurnal Universitas Narotama Surabaya, ternyata gawai dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan anak dalam belajar mengenali angka, khususnya pada anak usia 3 sampai 4 tahun. Terdapat beberapa trik sederhana yang dapat digunakan orangtua untuk menggunakan gawai agar anak dapat mengetahui manfaat dari penggunaan gawai sejak dini, dan menghindari Sisi negatif yang mungkin ditimbulkan.

Hal-hal negatif yang dimaksud yaitu risiko penggunaan gawai pada anak. Terlepas dari sisi baik atau buruknya, menggunakan gawai sama saja dengan menghabiskan waktu didepan layar. Namun, tentu terdapat batasan-batasan yang menjadi tolak ukur apakah seorang anak dapat dikatakan kecanduan atau tidak.

Sebagai contoh, beberapa sekolah pada saat ini sudah menerapkan sistem belajar mengajar dengan menggunakan smartphone. Maka tidak ada alasan lagi bagi orangtua untuk tidak memberikan smartphone untuk anak, dengan syarat bahwa penggunaanya tetap diawasi.

Berbeda halnya jika anak menggunakan smartphone tanpa tujuan tertentu, seperti bermain game online. Padahal, orangtua punya banyak kesempatan untuk mengajarkan anaknya belajar dengan media smartphone. Sebuah Jurnal dari Universitas PGRI Yogyakarta merilis hasil penelitian yang menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan memahami bacaan siswa kelas IV SD dan MI di Indonesia memperoleh skor 428, yang masih di bawah skor rata-rata 500, menduduki peringkat ke 42 dari 45 negara yang diteliti. Dan kemerosotan ini disebabkan oleh kurangnya perhatian orangtua dalam mengarahkan dan mengawasi anak bermain gawai.

Dampak positif dan negatif penggunaan gawai tergantung pada penggunaan gawai itu sendiri. Maka, penting bagi orangtua untuk tetap mengawasi anak agar dapat secara dini mencegah kecanduan bermain game online yang berujung pada merosotnya kecerdasan anak.

Adiksi Gawai Pemicu Gangguan Mental dan Emosional Anak

Kasus yang tengah marak terjadi terkait gangguan jiwa termasuk mental, emosional bahkan perilaku dialami anak akibat adiksi gawai atau kecanduan gawai. Ini bahkan menjadi masalah serius yang harus diwaspadai seluruh orangtua. Menurut Jurnal Keperawatan Silampari, bagi orangtua yang memiliki anak terutama usia prasekolah harus lebih waspada jika mengalami adiksi gawai. Untuk menghindari hal tersebut perlu dilakukan deteksi dini dalam penilaian status mental dan emosional anak sejak dini pada usia 3-6 tahun.

Kebanyakan orangtua kurang mengawasi dan tak memahami gejala-gejala maupun dampak yang terjadi. Walaupun dampak pemakaian gawai tak selalu negatif, namun berbeda halnya jika anak sampai mengalami adiksi gawai. Hal inilah yang membuat penanganan dan prognosis yang lebih buruk pada anak. Akibat yang dapat terjadi jika tidak dilakukan tindakan maka akan mempengaruhi perkembangan mental dan emosional anak yang juga akan berpengaruh dengan kehidupan sosial anak di masyarakat. Perlu dilakukan skrining dini dan diagnosis dini untuk mengetahui gangguan tersebut. 

Anak-anak yang terpapar gangguan jiwa akibat kelalaian orangtua yang memberikan gawai tanpa pengawasan yang cukup hingga menyebabkan kecanduan. Anak yang telah dikenalkan gawai sejak balita mungkin awalnya menjadikan perilaku mereka menjadi tenang, namun lama kelamaan akibat terlalu asyik akan perkembang menjadi kecanduan karena permainan seru yang ada pada gawai. 

Dikutip dari Analisa Daily kecanduan game (gaming addi­ction) sudah dikategorikan sebagai penyakit oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2018. Ditemukan bahwa para pe­candu game yang sudah diteliti otaknya, ternyata telah terpapar sejak balita dan kerusakan otaknya kurang lebih sama dengan pecandu narkotika dan zat adiktif lainnya. Dalam temuan medis, prefrontal cortex atau bagian pada otak anak yang berfungsi untuk mematangkan kemampuan kognitif belum ber­kem­bang utuh sehingga mereka belum dapat mempersepsikan mana hal baik atau buruk.

Kehidupan sosial anak-anak terpengaruh oleh adanya teknologi yang kian berkembang hingga saat ini. Bahkan, anak-anak lebih sering melakukan interaksi melalui gawai hingga dunia maya. Ini sangat mempengaruhi daya pikir anak, hingga terburuknya anak menjadi anti sosial tak bisa berkomunikasi di masyarakat. Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi saat ini dipenuhi dengan kreativitas apabila pemanfaatannya  diimbangi dengan interaksi sosial yang baik di lingkungan sekitarnya.

Terapkan Aturan Sebelum Terlambat

Tantangan orangtua di era digital saat ini bertambah. Selain menuntun anak untuk mengikuti kemajuan teknologi, orangtua juga  harus berupaya agar anak tidak kecanduan gawai. Tidak dipungkiri gawai sudah seperti sahabat anak. Dimanapun berada selalu gawai dalam genggaman. Sebelum memutuskan untuk memberikan gawai pada anak, hendaknya orangtua mengetahui usia minimal anak boleh memiliki. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak usia 13 tahun adalah usia ideal anak boleh memiliki gawai, namun tetap dalam pengawasan orangtua. Di usia 13 tahun anak sudah mulai menalar apa yang baik dan buruk untuk dirinya secara sadar. Meskipun sudah mempunyai gawai secara mandiri, orangtua tetap membatasi waktu penggunaan gawai dan disarankan untuk menginstal filter internet guna memblokir konten yang tidak sesuai umurnya.

Orangtua dapat mencegah sebelum terjadinya  anak kecanduan gawai dengan mendisiplinkan anak. Berikan batasan waktu atau aturan dalam penggunaannya. Jangan biarkan anak ingin terus menambah waktu untuk bermain, meskipun ia menangis dan memberontak. Sikap disiplin bukan hanya berlaku untuk anak saja. Tetapi orangtua pun harus melakukannya. “ Terkadang orangtualah yang membuat aturan orangtua sendiri yang melanggar. Dengan dalih tidak tega dengan anak yang menangis.” ujar Nency Uci Kusnawati ibu 2 anak itu. Orangtua pun harus mencontohkan kepada anaknya, dengan tidak menggunakan gawai saat berkumpul bersama anak. .

Cara mencegah anak terus menerus bermain gawai, orangtua dapat mengalihkan anak dengan mengajak melakukan hal menyenangkan lainnya. Orangtua dapat mengajak anak membuat kreasi dari barang bekas, membaca buku cerita yang disukai anak atau permainan edukasi seperti puzzle. Nency selaku guru TK mengatakan lego adalah permainan favorit anak-anak yang setiap hari di mainkan. “Anak-anak itu lagi senang banget sama lego. Setiap hari mereka membuat mainan baru bongkar-pasang lego dengan aneka warna,“ imbuhnya ketika dihubungi Tim Farenting. Orangtua juga bisa loh mengikuti anak les renang, menari, atau musik sesuai dengan hobi atau minat dan bakat anak. 

Lahirnya Peradaban Baru

Pesatnya perkembangan sebuah teknologi di masa abad 21 melahirkan budaya-budaya baru. Peradaban semakin maju teknologi menjadi candu. Siapa yang bisa hidup sehari saja tanpa sebuah gawai? Mustahil dan tentu saja nihil bagi para anak yang terlahir pada era Digital Natives. Generasi Digital Natives adalah mereka yang sejak lahir telah terpapar dengan kecanggihan teknologi. Mereka adalah para generasi yang lahir mulai dari tahun 1990-an hingga sekarang, akrab dengan sebutan generasi Y dan generasi Z.

Indonesia merupakan salah satu negara pengguna internet tertinggi di dunia, inilah alasan mengapa para digital natives semakin menggila. Berdasarkan hasil riset dari Jurnal Psikologi Talenta, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet  (APJII) di tahun 2018, menunjukkan bahwa terdapat 64,8% atau 171,17 juta dari 264,16 juta jiwa populasi penduduk Indonesia merupakan pengguna internet secara aktif . Dari survei APJII tahun 2018 tersebut, diketahui bahwa sebanyak 25,2% dari populasi anak usia 5-9 tahun sudah menjadi pengguna internet dan 66,2% populasi anak usia 10- 14 tahun telah mengakses internet. Selanjutnya, populasi remaja usia 15-19 tahun menjadi pengguna internet yang tertinggi (91%) dibanding semua kategori usia. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak dan hampir seluruh remaja Indonesia telah terkoneksi dengan internet dari perangkat digital yang dimiliki. Mereka inilah yang disebut sebagai digital natives.

Lahirnya peradaban baru ini menimbulkan berbagai candu. Siapa saja sangat terbantu dengan adanya teknologi. Para anak digital natives ini akan mengalami ketergantungan jika tak diberi dampingan para orangtua. Berbagai macam kasus akibat ketagihan dan penggunaan berlebihan teknologi telah menjadi bukti betapa bahayanya peristiwa ini. Realitanya, anak di zaman sekarang sangatlah jauh berbeda dengan yang dulu. Contohnya saja dalam permainan yang dimainkan. Jika dulu kita sering melihat anak bermain permainan tradisional seperti lompat tali, kelereng, atau petak umpet. Saat ini semua berubah menjadi pecandu permainan digital seperti game online. Perubahan ini menimbulkan berbagai macam aspek yang mempengaruhi kondisi psikologis anak.

Lantas bagaimana orangtua menyikapi hal ini? Seperti dijelaskan Zainul Anwar, “keterampilan yang dibutuhkan orangtua dalam bersikap menangani anak di era digital natives ini adalah kemampuan relasi berkomunikasi dengan anak. Terlebih untuk anak usia remaja seperti anak yang duduk dibangku SMP dan SMA,” tuturnya. Sebab anak pada usia tersebut dalam psikologi perkembangan mulai melakukan hubungan relasi di luar. Maka dari itu orangtua harus bisa membangun relasi dengan anak untuk bisa berdiskusi. Komunikasi yang baik inilah yang bisa membuat hubungan orangtua dan anak dalam perkembangan teknologi semakin terbuka. Anak akan mengerti orangtua dan orangtua akan mengerti anaknya. Kestabilan dalam pemanfaatan teknologi di keluarga akan lebih baik tentunya. Orangtua bisa mengikuti perkembangan anak dan anak akan tetap terawasi. 

Penulis: Agam Ray Waladi, Muhammad Ridho Muttaqien, Aulia Fitria, Adin Damayanti, Riza Purnomo Anggriawan

Penyunting Teks: Aulia Fitria, Adin Damayanti

Visit Us

Image Sources: Freepik.com

Bagikan yuk!