Berkebun, Aktivitas Sederhana tapi Sarat Makna Bagi Balita

Berkebun, Aktivitas Sederhana tapi Sarat Makna Bagi Balita

Farenting.com РAktivitas yang serba terbatas selama #dirumahaja membuat banyak orangtua gelisah. Di satu sisi mereka ingin menemani anaknya agar betah di rumah, namun di sisi lain juga harus berjuang untuk mencari nafkah. Akibatnya, tak sedikit dari orangtua yang pasrah dan memilih untuk memberikan gawai pada anak-balitanya. Padahal, masa balita adalah periode terpenting (golden age) dalam proses tumbuh kembang anak.  Di masa ini, orangtua harus berperan aktif dalam memberi stimulus baik secara fisik maupun psikis, salah satunya dengan mengajak anak berkebun.

Berkebun adalah aktivitas yang menyenangkan, produktif, sekaligus bisa dilakukan bersama anak selama #dirumahaja. Fams tidak harus memiliki kebun yang luas, cukup halaman depan atau belakang saja yang dijadikan kebun dadakan. Manfaatkanlah rasa ingin tahu anak yang tinggi melalui kegiatan eksplorasi sejak dini. Hal itulah yang diterapkan Dian Kusumawardani dalam salah satu artikelnya di Dee Stories.

Dian adalah seorang ibu pekerja yang memiliki aktivitas yang padat, namun ia sadar harus meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Semenjak Chaca, anak sulungnya memasuki bangku SD, ia menyadari bahwa waktunya bersama anak semakin berkurang. Oleh karena itu, Dian merasa harus berusaha menciptakan quality time setiap ada kesempatan. Lebih-lebih di masa pandemi, dimana ia bisa lebih leluasa memantau dan mengarahkan pembelajaran anak-anaknya.

Jauh sebelum pemerintah menerapkan aturan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah, Dian sudah membekali anaknya dengan aktivitas berkebun, ‚Äúberkebun besama anak ternyata sangat menyenangkan dan banyak manfaatnya¬†lho,‚ÄĚ ungkapnya dalam blog Dee Stories. Ia menarasikan secara¬†step by step¬†bagaimana berkebun bersama anak yang didapatkan setelah mengikuti Acara¬†Simple and Easy Gardening for Mom and Kid¬†(31/08/19).

Langkah pertama, siapkan media untuk menanam yang terdiri dari tiga bahan penyusun, yaitu tanah, pupuk, dan sekam. Perbandingan antara masing-masing bahan adalah 1:1:1 kemudian dicampur dan diaduk secara merata. Pupuk kandang bisa didapatkan dari peternak hewan, baik kambing, ayam ataupun yang lainnya. Namun, tak perlu khawatir jika kekurangan pupuk, karena cangkang telur bisa menjadi alternatif tambahan untuk menyuburkan tanaman. Untuk sekam sendiri, baiknya memilih sekam bakar agar tanaman lebih mudah menyerap air dan lebih tahan penyakit.

Kedua, siapkan pot berukuran 17 ‚Äď 40 cm atau jika ingin berkecimpung langsung dengan tanah, bisa langsung menanam di lahan rumah. Siram terlebih dahulu pot / tanah sebelum memasukkan tanaman atau biji yang sudah disiapkan. Menyiram pot / tanah sebelum meletakkan biji berguna agar biji tidak jatuh bersama air. Aktivitas bercocok tanam ini baiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Hal ini karena tanaman bisa stress bila dipindah atau di tanam pada siang hari. Jika sudah demikian, maka kelembaban tanaman akan berkurang hingga akhirnya layu dan mati. Jika matahari cukup terik, penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari dengan porsi air secukupnya.

Pada langkah¬†ketiga, Fams sudah bisa mengisi pot dengan biji kangkung atau biji lainnya yang telah disediakan. Bisa juga mengisi pot dengan tanaman yang sudah setengah tumbuh, agar anak bisa melihat perbedaan dari kedua metode yang diterapkan. Tanaman lain yang juga bisa menjadi pilihan di antaranya cabai, terong, seledri, dan tomat. Pada dasarnya jenis tanaman apapun bagus, namun ada baiknya memilih tanaman yang disukai dan memiliki pertumbuhan yang cepat‚ÄĒagar anak selalu sigap dalam memantau hasilnya.

Baca Juga:  Aktivitas Seru Montessori Selama #DirumahAja

Nah, bagaimana Fams? Tertarik untuk mengajak anak berkebun, atau masih enggan alias sibuk dengan kerjaan yang terus menimbun? Ingat, sebagai orangtua, Fams harus meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang. Anggap saja masa pandemi ini sebagai kesempatan untuk menjalin bonding yang kuat dengan anak-anak kita. Selain itu, ada ragam manfaat lain yang bisa didapatkan dari kegiatan bercocok tanam.

Berdasarkan Jurnal Benefits of Gardening for Children yang diterbitkan University of Colorado Denver, terdapat ragam manfaat yang didapatkan jika mengajak anak berkebun, di antaranya; anak akan cendrung menyukai makanan sehat, sehingga nutrisi dan kesehatannya selalu terjaga sampai masa tuanya. Survey yang dilakukan terhadap 2000 responden menunjukkan mereka yang berkebun di masa kecil akan terus menjalin kedekatan dengan lingkungan dan alam saat mereka berumur 18-85 tahun.

Oleh karena itu, usahakanlah untuk membuat program bercocok tanam bersama anak. Dengan terus membiasakan aktivitas ini, anak akan cendrung aktif bersosial, memiliki prestasi tinggi, serta sikap yang baik dalam menghadapi segala situasi. Selamat mencoba, Fams.

Bagikan yuk!

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *